Sepuluh tahun yang lalu, kalau saya ditanya apakah tip sukses saya, mungkin saya tidak bisa menjawab. Sekarang, sukses bagi saya bukanlah ketika buku saya menjadi best-seller atau ketika menerima pujian untuk artikel ilmiah yang diterbitkan di jurnal terkemuka di Inggris Raya. Sukses bukan pula ketika saya dan suami berhasil juga membeli rumah di San Francisco Bay Area dengan keringat sendiri setelah hampir sepuluh tahun merantau di Negeri Paman Sam.
Sukses bagi saya adalah mindset. Sukses adalah saya; saya adalah sukses. Sukses bukan tujuan, bukan pula perjalanan. Success is about being dan becoming.
Berani dan overconfident kedengarannya? Mungkin, yang jelas ribuan bahkan jutaan manusia "sukses" di dunia alias manusia bermental juara mempunyai mindset seperti ini.
Apakah Anda perlu menjadi juara tenis tingkat Wimbledon atau juara golf profesional di PGA Pebble Beach untuk disebut "sukses"? Apakah Anda perlu mengendarai Corvette dan Lexus SUV hybrid? Jelas tidak. Seorang bermental juara alias bermindset "orang sukses" bisa jadi hanyalah seorang salesman saja.
Ambillah contoh Bill Porter, seorang salesman door-to-door dari Portland, Oregon yang terlahir dengan cerebral palsy. Ia berjalan kaki setidaknya 10 mil perhari selama 40 tahun dengan tertatih-tatih setiap hari tanpa mengeluh. Hebatnya, karena tubuhnya bagian kiri tidak bekerja sebagaimana orang normal, ia sebenarnya sangat sulit untuk berjalan tegak dan berbicara dengan jelas. (Baca www.billporter.com, filem Door to Door dan buku berjudul Ten Things I Learned from Bill Porter oleh Shelly Brady.) Dengan penghasilan pas-pasan dari seorang salesman rumah ke rumah, jelas di mata orang awam ia tidaklah termasuk kategori "sukses secara finansial."
Namun, bagi saya, Bill Porter adalah salah satu orang paling sukses di dunia yang amat sangat saya kagumi. Salah satu cita-cita saya adalah bertemu muka dengan beliau suatu hari.
Nah, lantas apa resep 10 tip sukses concoction ala Jennie?
Satu, bersyukurlah atas hari ini. "Just to be alive is a grand thing," kata Agatha Christie, salah satu novelis detektif terkemuka. Jauhkanlah perasaan depresi dan sedih tanpa juntrungan. Jalani setiap hari dengan hati penuh syukur. Ingatlah akan Bill Porter. Kalau dia bisa jadi seorang salesman berhasil, apapun yang Anda inginkan sebenarnya pasti bisa tercapai.
Dua, belajarlah seakan-akan Anda akan hidup selamanya, hiduplah seakan-akan Anda akan mati besok. Mohandas Gandhi pernah berkata demikian, "Live as if you were to die tomorrow, learn as if you were to live forever." Belajar terus, upgrade diri terus dengan berbagai cara baik yang memerlukan effort maupun effortlessly.
Tiga, setiap ketrampilan pasti ada penggunanya. Ini saya dapat dari salah satu sahabat saya seorang wanita blonda dari San Diego. Sahabat saya Crystal ini pernah membesarkah hati saya, "There are all kinds of writers, there are all kinds of readers." Ketika saya down karena merasa incompetent bertarung dengan penulis-penulis lokal di sini, Crystal mengingatkan bahwa setiap jenis penulis pasti ada pembacanya (niche). Find your niche, so you find your place in the world.
Empat, bukalah jalan sendiri, orisinil. Ralph Waldo Emerson once said, "Do not go where the path may lead, go instead where there is no path and leave a trail." Jangan latah mengikuti orang lain, dengar kata hati dan ikutilah jalan yang belum kelihatan.
Lima, belajar mencintai apa yang Anda punyai, bukan berangan-angan akan apa yang Anda tidak miliki. Use whatever you have at hand, impian hanya akan menjadi nyata kalau Anda menggunakan instrumen yang kasat mata saat ini juga.
Enam, lihat apa yang kelihatan dan lihat apa yang belum kelihatan. Gunakan visi dan misi untuk mengenal apa yang Anda tuju. Seringkali, apa yang belum kelihatan adalah blue print untuk sukses Anda. Begitu kelihatan, ia akan menjadi semacam de ja vu.
Tujuh, telan kepahitan hidup dan bersiap-siaplah dalam menyongsong hari baru. Setiap hari adalah hari baru. Bangunlah tiap pagi dengan hati yang curious akan apa yang akan Anda alami hari itu. Be excited, be courageous to start the day.
Delapan, semakin banyak Anda memberi, semakin banyak Anda akan menerima. The more you give, the more you get in return. Dalam marketing, ini mungkin disebut sebagai taktik public relations atau publicity. Namun, dalam kehidupan sehari-hari, ini juga berlaku tanpa diselipi dengan iming-iming tertentu. Saya sendiri sudah membuktikannya. Semakin banyak kita memberi (dalam arti luas, tidak terbatas uang dan materi), semakin besar penghargaan dan berkat yang kita terima.
Sembilan, jadilah mentor diri sendiri. What would Oprah do? Itu yang saya pakai sebagai ukuran. Saya tidak memilih Nabi atau pembesar negara, namun seorang wanita berkulit berwarna yang telah membalikkan nasibnya sendiri menjadi salah satu orang berpengaruh di dunia.
Sepuluh, saya eksis dengan maupun tanpa tubuh saya. Setidak-tidaknya sekali sehari, saya mengingatkan diri sendiri bahwa hidup ini bukanlah untuk selamanya. Maka berbuatlah terbaik pada saat ini juga. Jangan tunggu-tunggu lagi. "Just do it," kata Cher di Farewell Concertnya beberapa tahun yang lampau. I do my best every chance I have. Berbuatlah terbaik di setiap kesempatan, karena itu mungkin yang terakhir.
Ingatlah sukses bukanlah tujuan, bukan pula perjalanan. Sukses adalah mindset. Bukan hanya cogito er go sum (saya berpikir maka saya ada), namun sum ego prosperitas (sukses adalah saya).
Sumber: Sepuluh Tip Sukses Right Here, Right Now by Jennie S. Bev.
Jennie S. Bev is a prolific author and co-author of 17 books and
over 850 articles published in the United States, Canada, UK,
France, Germany, Singapore and Indonesia. She is based in scenic
Northern California where she resides with her husband.
Tuesday, October 30, 2007
aneka-cd.t35.com
Ingin lebih mengetahui tentang bisnis online dari http://aneka-cd.t35.com
Silahkan memasuki http://aneka-cd.t35.com/faq.php?rahasia-bisnis=yes
^^sourceid
Silahkan memasuki http://aneka-cd.t35.com/faq.php?rahasia-bisnis=yes
^^sourceid
Thursday, October 18, 2007
Sepuluh Tip Sukses Right Here, Right Now
Sepuluh tahun yang lalu, kalau saya ditanya apakah tip sukses saya, mungkin saya tidak bisa menjawab. Sekarang, sukses bagi saya bukanlah ketika buku saya menjadi best-seller atau ketika menerima pujian untuk artikel ilmiah yang diterbitkan di jurnal terkemuka di Inggris Raya. Sukses bukan pula ketika saya dan suami berhasil juga membeli rumah di San Francisco Bay Area dengan keringat sendiri setelah hampir sepuluh tahun merantau di Negeri Paman Sam.
Sukses bagi saya adalah mindset. Sukses adalah saya; saya adalah sukses. Sukses bukan tujuan, bukan pula perjalanan. Success is about being dan becoming.
Berani dan overconfident kedengarannya? Mungkin, yang jelas ribuan bahkan jutaan manusia "sukses" di dunia alias manusia bermental juara mempunyai mindset seperti ini.
Apakah Anda perlu menjadi juara tenis tingkat Wimbledon atau juara golf profesional di PGA Pebble Beach untuk disebut "sukses"? Apakah Anda perlu mengendarai Corvette dan Lexus SUV hybrid? Jelas tidak. Seorang bermental juara alias bermindset "orang sukses" bisa jadi hanyalah seorang salesman saja.
Ambillah contoh Bill Porter, seorang salesman door-to-door dari Portland, Oregon yang terlahir dengan cerebral palsy. Ia berjalan kaki setidaknya 10 mil perhari selama 40 tahun dengan tertatih-tatih setiap hari tanpa mengeluh. Hebatnya, karena tubuhnya bagian kiri tidak bekerja sebagaimana orang normal, ia sebenarnya sangat sulit untuk berjalan tegak dan berbicara dengan jelas. (Baca www.billporter.com, filem Door to Door dan buku berjudul Ten Things I Learned from Bill Porter oleh Shelly Brady.) Dengan penghasilan pas-pasan dari seorang salesman rumah ke rumah, jelas di mata orang awam ia tidaklah termasuk kategori "sukses secara finansial."
Namun, bagi saya, Bill Porter adalah salah satu orang paling sukses di dunia yang amat sangat saya kagumi. Salah satu cita-cita saya adalah bertemu muka dengan beliau suatu hari.
Nah, lantas apa resep 10 tip sukses concoction ala Jennie?
Satu, bersyukurlah atas hari ini. "Just to be alive is a grand thing," kata Agatha Christie, salah satu novelis detektif terkemuka. Jauhkanlah perasaan depresi dan sedih tanpa juntrungan. Jalani setiap hari dengan hati penuh syukur. Ingatlah akan Bill Porter. Kalau dia bisa jadi seorang salesman berhasil, apapun yang Anda inginkan sebenarnya pasti bisa tercapai.
Dua, belajarlah seakan-akan Anda akan hidup selamanya, hiduplah seakan-akan Anda akan mati besok. Mohandas Gandhi pernah berkata demikian, "Live as if you were to die tomorrow, learn as if you were to live forever." Belajar terus, upgrade diri terus dengan berbagai cara baik yang memerlukan effort maupun effortlessly.
Tiga, setiap ketrampilan pasti ada penggunanya. Ini saya dapat dari salah satu sahabat saya seorang wanita blonda dari San Diego. Sahabat saya Crystal ini pernah membesarkah hati saya, "There are all kinds of writers, there are all kinds of readers." Ketika saya down karena merasa incompetent bertarung dengan penulis-penulis lokal di sini, Crystal mengingatkan bahwa setiap jenis penulis pasti ada pembacanya (niche). Find your niche, so you find your place in the world.
Empat, bukalah jalan sendiri, orisinil. Ralph Waldo Emerson once said, "Do not go where the path may lead, go instead where there is no path and leave a trail." Jangan latah mengikuti orang lain, dengar kata hati dan ikutilah jalan yang belum kelihatan.
Lima, belajar mencintai apa yang Anda punyai, bukan berangan-angan akan apa yang Anda tidak miliki. Use whatever you have at hand, impian hanya akan menjadi nyata kalau Anda menggunakan instrumen yang kasat mata saat ini juga.
Enam, lihat apa yang kelihatan dan lihat apa yang belum kelihatan. Gunakan visi dan misi untuk mengenal apa yang Anda tuju. Seringkali, apa yang belum kelihatan adalah blue print untuk sukses Anda. Begitu kelihatan, ia akan menjadi semacam de ja vu.
Tujuh, telan kepahitan hidup dan bersiap-siaplah dalam menyongsong hari baru. Setiap hari adalah hari baru. Bangunlah tiap pagi dengan hati yang curious akan apa yang akan Anda alami hari itu. Be excited, be courageous to start the day.
Delapan, semakin banyak Anda memberi, semakin banyak Anda akan menerima. The more you give, the more you get in return. Dalam marketing, ini mungkin disebut sebagai taktik public relations atau publicity. Namun, dalam kehidupan sehari-hari, ini juga berlaku tanpa diselipi dengan iming-iming tertentu. Saya sendiri sudah membuktikannya. Semakin banyak kita memberi (dalam arti luas, tidak terbatas uang dan materi), semakin besar penghargaan dan berkat yang kita terima.
Sembilan, jadilah mentor diri sendiri. What would Oprah do? Itu yang saya pakai sebagai ukuran. Saya tidak memilih Nabi atau pembesar negara, namun seorang wanita berkulit berwarna yang telah membalikkan nasibnya sendiri menjadi salah satu orang berpengaruh di dunia.
Sepuluh, saya eksis dengan maupun tanpa tubuh saya. Setidak-tidaknya sekali sehari, saya mengingatkan diri sendiri bahwa hidup ini bukanlah untuk selamanya. Maka berbuatlah terbaik pada saat ini juga. Jangan tunggu-tunggu lagi. "Just do it," kata Cher di Farewell Concertnya beberapa tahun yang lampau. I do my best every chance I have. Berbuatlah terbaik di setiap kesempatan, karena itu mungkin yang terakhir.
Ingatlah sukses bukanlah tujuan, bukan pula perjalanan. Sukses adalah mindset. Bukan hanya cogito er go sum (saya berpikir maka saya ada), namun sum ego prosperitas (sukses adalah saya).
Sumber: Sepuluh Tip Sukses Right Here, Right Now by Jennie S. Bev.
Jennie S. Bev is a prolific author and co-author of 17 books and
over 850 articles published in the United States, Canada, UK,
France, Germany, Singapore and Indonesia. She is based in scenic
Northern California where she resides with her husband.
Sukses bagi saya adalah mindset. Sukses adalah saya; saya adalah sukses. Sukses bukan tujuan, bukan pula perjalanan. Success is about being dan becoming.
Berani dan overconfident kedengarannya? Mungkin, yang jelas ribuan bahkan jutaan manusia "sukses" di dunia alias manusia bermental juara mempunyai mindset seperti ini.
Apakah Anda perlu menjadi juara tenis tingkat Wimbledon atau juara golf profesional di PGA Pebble Beach untuk disebut "sukses"? Apakah Anda perlu mengendarai Corvette dan Lexus SUV hybrid? Jelas tidak. Seorang bermental juara alias bermindset "orang sukses" bisa jadi hanyalah seorang salesman saja.
Ambillah contoh Bill Porter, seorang salesman door-to-door dari Portland, Oregon yang terlahir dengan cerebral palsy. Ia berjalan kaki setidaknya 10 mil perhari selama 40 tahun dengan tertatih-tatih setiap hari tanpa mengeluh. Hebatnya, karena tubuhnya bagian kiri tidak bekerja sebagaimana orang normal, ia sebenarnya sangat sulit untuk berjalan tegak dan berbicara dengan jelas. (Baca www.billporter.com, filem Door to Door dan buku berjudul Ten Things I Learned from Bill Porter oleh Shelly Brady.) Dengan penghasilan pas-pasan dari seorang salesman rumah ke rumah, jelas di mata orang awam ia tidaklah termasuk kategori "sukses secara finansial."
Namun, bagi saya, Bill Porter adalah salah satu orang paling sukses di dunia yang amat sangat saya kagumi. Salah satu cita-cita saya adalah bertemu muka dengan beliau suatu hari.
Nah, lantas apa resep 10 tip sukses concoction ala Jennie?
Satu, bersyukurlah atas hari ini. "Just to be alive is a grand thing," kata Agatha Christie, salah satu novelis detektif terkemuka. Jauhkanlah perasaan depresi dan sedih tanpa juntrungan. Jalani setiap hari dengan hati penuh syukur. Ingatlah akan Bill Porter. Kalau dia bisa jadi seorang salesman berhasil, apapun yang Anda inginkan sebenarnya pasti bisa tercapai.
Dua, belajarlah seakan-akan Anda akan hidup selamanya, hiduplah seakan-akan Anda akan mati besok. Mohandas Gandhi pernah berkata demikian, "Live as if you were to die tomorrow, learn as if you were to live forever." Belajar terus, upgrade diri terus dengan berbagai cara baik yang memerlukan effort maupun effortlessly.
Tiga, setiap ketrampilan pasti ada penggunanya. Ini saya dapat dari salah satu sahabat saya seorang wanita blonda dari San Diego. Sahabat saya Crystal ini pernah membesarkah hati saya, "There are all kinds of writers, there are all kinds of readers." Ketika saya down karena merasa incompetent bertarung dengan penulis-penulis lokal di sini, Crystal mengingatkan bahwa setiap jenis penulis pasti ada pembacanya (niche). Find your niche, so you find your place in the world.
Empat, bukalah jalan sendiri, orisinil. Ralph Waldo Emerson once said, "Do not go where the path may lead, go instead where there is no path and leave a trail." Jangan latah mengikuti orang lain, dengar kata hati dan ikutilah jalan yang belum kelihatan.
Lima, belajar mencintai apa yang Anda punyai, bukan berangan-angan akan apa yang Anda tidak miliki. Use whatever you have at hand, impian hanya akan menjadi nyata kalau Anda menggunakan instrumen yang kasat mata saat ini juga.
Enam, lihat apa yang kelihatan dan lihat apa yang belum kelihatan. Gunakan visi dan misi untuk mengenal apa yang Anda tuju. Seringkali, apa yang belum kelihatan adalah blue print untuk sukses Anda. Begitu kelihatan, ia akan menjadi semacam de ja vu.
Tujuh, telan kepahitan hidup dan bersiap-siaplah dalam menyongsong hari baru. Setiap hari adalah hari baru. Bangunlah tiap pagi dengan hati yang curious akan apa yang akan Anda alami hari itu. Be excited, be courageous to start the day.
Delapan, semakin banyak Anda memberi, semakin banyak Anda akan menerima. The more you give, the more you get in return. Dalam marketing, ini mungkin disebut sebagai taktik public relations atau publicity. Namun, dalam kehidupan sehari-hari, ini juga berlaku tanpa diselipi dengan iming-iming tertentu. Saya sendiri sudah membuktikannya. Semakin banyak kita memberi (dalam arti luas, tidak terbatas uang dan materi), semakin besar penghargaan dan berkat yang kita terima.
Sembilan, jadilah mentor diri sendiri. What would Oprah do? Itu yang saya pakai sebagai ukuran. Saya tidak memilih Nabi atau pembesar negara, namun seorang wanita berkulit berwarna yang telah membalikkan nasibnya sendiri menjadi salah satu orang berpengaruh di dunia.
Sepuluh, saya eksis dengan maupun tanpa tubuh saya. Setidak-tidaknya sekali sehari, saya mengingatkan diri sendiri bahwa hidup ini bukanlah untuk selamanya. Maka berbuatlah terbaik pada saat ini juga. Jangan tunggu-tunggu lagi. "Just do it," kata Cher di Farewell Concertnya beberapa tahun yang lampau. I do my best every chance I have. Berbuatlah terbaik di setiap kesempatan, karena itu mungkin yang terakhir.
Ingatlah sukses bukanlah tujuan, bukan pula perjalanan. Sukses adalah mindset. Bukan hanya cogito er go sum (saya berpikir maka saya ada), namun sum ego prosperitas (sukses adalah saya).
Sumber: Sepuluh Tip Sukses Right Here, Right Now by Jennie S. Bev.
Jennie S. Bev is a prolific author and co-author of 17 books and
over 850 articles published in the United States, Canada, UK,
France, Germany, Singapore and Indonesia. She is based in scenic
Northern California where she resides with her husband.
Membaca Keadaan
Dua sampai lima tahun lalu, siapa yang menolak kalau dikatakan dangdut berposisi di pojok dan dipandang sebelah mata atau dikesankan sebagai musik kampungan. Akibat pandangan ini tidak sedikit penyanyi dangdut yang terpaksa menutupi identitasnya. Beberapa stasiun televisi pun masih enggan menyiarkan musik-musik dangdut. Tetapi siapa yang menyangka kalau musik ini sekarang justru menjadi hiburan andalan. Sejumlah penyanyi dangdut mengaku kewalahan meladeni order manggung. Tidak hanya itu, penyanyi-penyanyi dari aliran musik lain pun ikut alih profesi ke musik dangdut. Bahkan saat ini hampir setiap malam hiburan dangdut ditayangkan secara ‘live’ oleh beberapa stasiun televisi.
Dari komentar yang sedang berkembang di media atau pembicaraan antar pribadi diperoleh kesimpulan bahwa kesuksesan musik dangdut ini tidak lepas dari ‘blessing in disguise’ krisis moneter yang berubah menjadi krisis multidimensi. Karena krisis yang terus menambah jumlah pawai tanda tanya, masyarakat merasa butuh hiburan yang seirama dengan suasana hati dan suasana keadaan. Benar atau salah logika yang digunakan untuk berkomentar tidaklah sepenting fakta alamiah bahwa kesuksesan dangdut tidak lepas dari upaya sebagian kecil orang dalam membaca keadaan, “See the need and fill it”. Contoh yang paling aktual dan sensasional adalah fenomena goyang "ngebor" Inul Daratista. Terlepas dari pendapat pro dan kontra di seputar goyang ngebor yang ditampilkannya, Inul telah berhasil membaca keadaan sehingga telah membuatnya kerepotan untuk memenuhi permintaan (baca: order) manggung baik dari stasiun televisi maupun masyarakat umum.
The Law of Reading
Keadaan eksternal yang diinformasikan oleh media atau jaringan personal digambarkan oleh Trevor Bently ( dalam Creativity; McGraw –Hill: 1997) dalam bentuk tulisan berikut:
“THEOPPORTUNITYISNOWHERE”
Untuk membaca dengan benar tulisan di atas dibutuhkan penguasaan bahasa yang meliputi tata bahasa, kalimat dan kata agar persepsi yang diperoleh tidak salah atau tidak bertentangan dengan apa yang dibutuhkan oleh keadaan. Orang boleh membaca "The Opportunity Is No Where" yang berarti bahwa persepsi orang tentang keadaan eksternal adalah krisis yang sama sekali tidak menyimpan peluang atau solusi. Memperhatikan kenyataan di lapangan ternyata jumlah pembaca kelompok ini bisa dikatakan dominan. Sebabnya tidak lain adalah penguasaan bahasa dan tata bahasa keadaan yang minim sehingga gagal menyusun partikulasi kalimat keadaan.
Sebaliknya orang juga bisa memilih untuk membaca "The Opportunity Is Now Here" yang artinya peluang atau solusi itu ada di balik krisis asalkan bisa membacanya dengan jeli. Inilah sebenarnya yang dilihat oleh Inul dan teamnya. Ironisnya jumlah pembaca kelompok ini hanya sedikit. Padahal hampir semua orang menginginkan pilihan bacaan kedua ini tetapi prakteknya justru berbalik memilih yang pertama.
Itulah gambara bahwa satu tulisan yang disusun dengan jumlah karakter yang sama dapat dibaca dengan dua model bacaan yang menghasilkan dua persepsi yang berbeda. Kalau sudah sampai ke perbedaan persepsi berarti akan menghasilkan sikap mental yang berbeda yang berarti juga akan membuat tindakan hidup tidak sama. Oleh karena itu membaca merupakan instruksi kemanusiaan yang pertama kali dikeluarkan. Sebab membaca merupakan pintu tunggal bagi kita untuk mengetahui sesuatu di samping membaca juga akan mendorong untuk memilih bagaimana membaca dengan benar sehingga menghasilkan kesimpulan yang diharapkan. Atas dasar ini, membaca berarti punya tingkatannya sendiri.
Kalau dikelompokkan, kemampuan orang dalam membaca keadaan dapat digolongkan menjadi dua yaitu:
1. Kemampuan membaca Tangible materials (materi yang bisa dilihat dan disentuh)
2. Kemampuan membaca Intangible materials (materi yang tidak kasat mata dan tidak dapat tersentuh)
Membaca materi yang bisa disentuh oleh indera fisik dapat dilakukan oleh sebagian besar manusia dan memang inilah jalan yang harus ditempuh lebih dulu sebelum mengasah kemampuan untuk membaca materi yang tidak bisa disentuh atau tidak tertulis. Dan rasanya kebutuhan pengetahuan yang diperoleh dari materi tangible sudah bisa dipenuhi oleh hampir semua orang dari semua tingkatan.
Tetapi kebutuhan untuk mendapatkan pengetahuan yang diperoleh dari materi intangible dapat dikatakan baru dipenuhi oleh sebagian kecil orang. Padahal kalau dilihat bagaimana dunia bekerja, materi yang intangible justru sering menjadi faktor-penentu yang membedakan antara ada peluang atau tidak ada peluang di balik situasi yang berkembang. Atau dengan kata lain ada ‘hidden connecting’ (hubungan terselubung) yang menghubungkan antara satu obyek dengan obyek lain dan berpengaruh kuat terhadap kualitas keputusan hidup dalam hal identifikasi persoalan dan tindakan solusi.
Identifikasi masalah yang dihasilkan dari membaca intangible material dan hidden connecting akan mengarah pada penemuan fakta optimal yang berbeda dari kebanyakan orang yang mendasarkan keputusan hidupnya pada ‘personal feeling’ (perasaan pribadi) atau ‘rule of habit’ (kebiasaan) masa lalu. Dengan fakta optimal yang diperoleh maka bentuk partikulasi persoalan menjadi jelas dan mudah untuk dirumuskan skala prioritas penyelesaiannya. Pada tingkat tindakan, keputusan yang didasarkan pada fakta optimal kemungkinan besar akan menjadi akhir dari masalah yang bisa berarti peluang. Kalau tidak bisa langsung menjadi peluang, sedikitnya keputusan itu menjadi tindakan penyelamat darurat, tindakan adaptive atau tindakan korektif dari keadaan. Ini berbeda dengan keputusan yang semata didasarkan pada personal feeling atau rule of habit masa lalu yang lebih banyak menggunakan senjata kayu: mematahkan atau dipatahkan. Padahal mematahkan bukan akhir dari persoalan begitu juga dipatahkan.
Pembelajaran Diri
Membaca adalah kunci bagaimana kita mempersepsikan keadaan yang telah diinformasikan oleh media atau melalui jaringan personal. Tetapi membaca hanya untuk membaca dalam arti aktivitas dapat dikatakan masih belum memenuhi tujuan dari panggilan instruksi hidup pertama itu. Bahkan para pakar sudah sejak lama mengingatkan munculnya wabah yang bernama "information over-load" – suatu 'penyakit' di mana kepala manusia dipenuhi oleh informasi tentang keadaan makro yang tidak bisa digunakan untuk menyelesaikan keadaan mikro. Dengan perkembangan yang pesat dari penyedia informasi yang menjajakan pilihan persepsi keadaan, maka akan sangat mungkin wabah tersebut akan kian merajalela.
Kemampuan membaca harus ditajamkan dengan pembelajaran-diri dalam arti membaca untuk menciptakan peluang yang lebih bagus dari tujuan hidup, terutama sekali peluang untuk perbaikan pada wilayah sentral: kesehatan fisik, kemakmuran finansial, kehormatan status sosial, kepiawaian profesionalitas, kematangan mental, keseimbangan emosional, atau keluhuran moralitas.
Tahapan untuk menajamkan kemampuan membaca dapat dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut:
1. Pengetahuan
Semua yang dibaca orang bisa dikatakan secara take for granted sudah memenuhi kepentingan untuk mengetahui sesuatu; membaca untuk mengetahui. Pengetahuan adalah kesimpulan asumsi atau dugaan yang telah diverifikasi oleh orang atau lembaga yang berwenang dengan berpedoman pada pendekatan Generally Applicable yang disusun berdasarkan latarbelakang persoalan makro. Atas dasar ini pengetahuan tidak lepas dari kepentingan lembaga atau orang dalam arti menurut ‘versi’. Artinya pengetahuan baru berbicara pada kebenaran dalam arti folk wisdom atau tatanan umum.
Dengan berpedoman bahwa manusia diberi jalan hidup melalui business of selling, maka secara pengetahuan semua yang ada di dalam, di luar, samping kiri-kanan atau depan belakang seseorang dapat dibisniskan. Tetapi prakteknya tidak cukup hanya berpedoman pengetahuan itu. Dengan kata lain, pengetahuan adalah raw material of power seperti pisau. Pengetahuan hanya untuk pengetahuan sudah dibuktikan tidak bekerja, mandul, dan supaya bisa bekerja maka pengetahuan membutuhkan mobilisasi.
2. Pemahaman
Memobilasi pengetahuan dapat diartikan dengan menciptakan pemahaman pribadi atau sudut pandang. Dari perumpamaan susunan kalimat “Theopportunityisnowhere” saja bisa menghasilkan sekian model bacaan yang akan menjadi sekian sudut pandang dan sudah jelas akan menjadi bahan keputusan untuk bertindak. Dalam hal ini menciptakan pemahaman adalah bagaimana anda merefleksikan pengetahuan yang sifatnya ‘generally applicable’ di atas menjadi ‘specifically applicable’ dengan setting persoalan mikro: anda dengan wilayah operasi dan konsentrasi.
Pemahaman inilah yang akan menikahkan antara apa yang anda ketahui dari materi tangible dan materi intangible yang bekerja di lapangan. Orang sering merasa bahwa pengetahuannya tidak berguna karena tidak sesuai dengan kenyataan di lapangan padahal yang belum diperoleh adalah pemahaman. Logikanya, bagaimana mungkin buku yang dikarang di luar negeri oleh orang luar negeri dengan tatanan latarbelakang persoalan yang berbeda secara ruang dan waktu lalu diterapkan tanpa proses pengolahan lebih lanjut di meja kerja. Tetapi perlu diakui bahwa pemahaman anda tentang sesuatu baru berupa kreasi internal dan belum dapat dikatakan prestasi. Supaya pemahaman anda menjadi dasar prestasi, maka jadikan pemahaman anda sebagai materi tindakan sebab tindakan adalah prestasi hidup pertama kali.
3. Penghakiman
Membaca keadaan harus berakhir dengan penghakiman, eksekusi atau keputusan untuk bertindak. Intinya adalah eksekusi tindakan untuk menciptakan prestasi. Sebagai hakim anda mengetuk palu keputusan atas keabsahan hukum berdasarkan pengetahuan dan pemahaman anda. Seorang hakim yang menjalankan keputusan dan ternyata keputusan itu salah maka ia sudah mendapat reward satu kali dari hukum alam dan mendapat reward dua kali apabila keputusan itu benar. Sebaliknya hakim yang tidak menjalankan keputusannya meskipun keputusan itu benar maka ia telah dihakimi salah oleh hukum alam.
Melihat kenyataan bagaimana orang membaca keadaan bisa diperoleh kesimpulan seperti orang menggambar piramida; makin ke atas makin sedikit. Sebagian besar orang tahu bahwa krisis adalah sesuatu yang tidak enak namun hanya sebagian kecil yang memahami bahwa di balik krisis terdapat peluang, dan hanya sedikit sekali, bahkan bisa disebut pengecualian, yang mengambil eksekusi untuk berani bertindak. Kalau dibanding jumlah penduduk yang melebihi 200 juta jiwa, bisa anda hitung berapa persen yang mampu membaca “The Opportunity Is Now Here”. Berada dalam kelompok manakah anda saat ini? Semoga berguna. (jp)
_____________________________
Oleh Ubaydillah, (e-psikologi)
Dari komentar yang sedang berkembang di media atau pembicaraan antar pribadi diperoleh kesimpulan bahwa kesuksesan musik dangdut ini tidak lepas dari ‘blessing in disguise’ krisis moneter yang berubah menjadi krisis multidimensi. Karena krisis yang terus menambah jumlah pawai tanda tanya, masyarakat merasa butuh hiburan yang seirama dengan suasana hati dan suasana keadaan. Benar atau salah logika yang digunakan untuk berkomentar tidaklah sepenting fakta alamiah bahwa kesuksesan dangdut tidak lepas dari upaya sebagian kecil orang dalam membaca keadaan, “See the need and fill it”. Contoh yang paling aktual dan sensasional adalah fenomena goyang "ngebor" Inul Daratista. Terlepas dari pendapat pro dan kontra di seputar goyang ngebor yang ditampilkannya, Inul telah berhasil membaca keadaan sehingga telah membuatnya kerepotan untuk memenuhi permintaan (baca: order) manggung baik dari stasiun televisi maupun masyarakat umum.
The Law of Reading
Keadaan eksternal yang diinformasikan oleh media atau jaringan personal digambarkan oleh Trevor Bently ( dalam Creativity; McGraw –Hill: 1997) dalam bentuk tulisan berikut:
“THEOPPORTUNITYISNOWHERE”
Untuk membaca dengan benar tulisan di atas dibutuhkan penguasaan bahasa yang meliputi tata bahasa, kalimat dan kata agar persepsi yang diperoleh tidak salah atau tidak bertentangan dengan apa yang dibutuhkan oleh keadaan. Orang boleh membaca "The Opportunity Is No Where" yang berarti bahwa persepsi orang tentang keadaan eksternal adalah krisis yang sama sekali tidak menyimpan peluang atau solusi. Memperhatikan kenyataan di lapangan ternyata jumlah pembaca kelompok ini bisa dikatakan dominan. Sebabnya tidak lain adalah penguasaan bahasa dan tata bahasa keadaan yang minim sehingga gagal menyusun partikulasi kalimat keadaan.
Sebaliknya orang juga bisa memilih untuk membaca "The Opportunity Is Now Here" yang artinya peluang atau solusi itu ada di balik krisis asalkan bisa membacanya dengan jeli. Inilah sebenarnya yang dilihat oleh Inul dan teamnya. Ironisnya jumlah pembaca kelompok ini hanya sedikit. Padahal hampir semua orang menginginkan pilihan bacaan kedua ini tetapi prakteknya justru berbalik memilih yang pertama.
Itulah gambara bahwa satu tulisan yang disusun dengan jumlah karakter yang sama dapat dibaca dengan dua model bacaan yang menghasilkan dua persepsi yang berbeda. Kalau sudah sampai ke perbedaan persepsi berarti akan menghasilkan sikap mental yang berbeda yang berarti juga akan membuat tindakan hidup tidak sama. Oleh karena itu membaca merupakan instruksi kemanusiaan yang pertama kali dikeluarkan. Sebab membaca merupakan pintu tunggal bagi kita untuk mengetahui sesuatu di samping membaca juga akan mendorong untuk memilih bagaimana membaca dengan benar sehingga menghasilkan kesimpulan yang diharapkan. Atas dasar ini, membaca berarti punya tingkatannya sendiri.
Kalau dikelompokkan, kemampuan orang dalam membaca keadaan dapat digolongkan menjadi dua yaitu:
1. Kemampuan membaca Tangible materials (materi yang bisa dilihat dan disentuh)
2. Kemampuan membaca Intangible materials (materi yang tidak kasat mata dan tidak dapat tersentuh)
Membaca materi yang bisa disentuh oleh indera fisik dapat dilakukan oleh sebagian besar manusia dan memang inilah jalan yang harus ditempuh lebih dulu sebelum mengasah kemampuan untuk membaca materi yang tidak bisa disentuh atau tidak tertulis. Dan rasanya kebutuhan pengetahuan yang diperoleh dari materi tangible sudah bisa dipenuhi oleh hampir semua orang dari semua tingkatan.
Tetapi kebutuhan untuk mendapatkan pengetahuan yang diperoleh dari materi intangible dapat dikatakan baru dipenuhi oleh sebagian kecil orang. Padahal kalau dilihat bagaimana dunia bekerja, materi yang intangible justru sering menjadi faktor-penentu yang membedakan antara ada peluang atau tidak ada peluang di balik situasi yang berkembang. Atau dengan kata lain ada ‘hidden connecting’ (hubungan terselubung) yang menghubungkan antara satu obyek dengan obyek lain dan berpengaruh kuat terhadap kualitas keputusan hidup dalam hal identifikasi persoalan dan tindakan solusi.
Identifikasi masalah yang dihasilkan dari membaca intangible material dan hidden connecting akan mengarah pada penemuan fakta optimal yang berbeda dari kebanyakan orang yang mendasarkan keputusan hidupnya pada ‘personal feeling’ (perasaan pribadi) atau ‘rule of habit’ (kebiasaan) masa lalu. Dengan fakta optimal yang diperoleh maka bentuk partikulasi persoalan menjadi jelas dan mudah untuk dirumuskan skala prioritas penyelesaiannya. Pada tingkat tindakan, keputusan yang didasarkan pada fakta optimal kemungkinan besar akan menjadi akhir dari masalah yang bisa berarti peluang. Kalau tidak bisa langsung menjadi peluang, sedikitnya keputusan itu menjadi tindakan penyelamat darurat, tindakan adaptive atau tindakan korektif dari keadaan. Ini berbeda dengan keputusan yang semata didasarkan pada personal feeling atau rule of habit masa lalu yang lebih banyak menggunakan senjata kayu: mematahkan atau dipatahkan. Padahal mematahkan bukan akhir dari persoalan begitu juga dipatahkan.
Pembelajaran Diri
Membaca adalah kunci bagaimana kita mempersepsikan keadaan yang telah diinformasikan oleh media atau melalui jaringan personal. Tetapi membaca hanya untuk membaca dalam arti aktivitas dapat dikatakan masih belum memenuhi tujuan dari panggilan instruksi hidup pertama itu. Bahkan para pakar sudah sejak lama mengingatkan munculnya wabah yang bernama "information over-load" – suatu 'penyakit' di mana kepala manusia dipenuhi oleh informasi tentang keadaan makro yang tidak bisa digunakan untuk menyelesaikan keadaan mikro. Dengan perkembangan yang pesat dari penyedia informasi yang menjajakan pilihan persepsi keadaan, maka akan sangat mungkin wabah tersebut akan kian merajalela.
Kemampuan membaca harus ditajamkan dengan pembelajaran-diri dalam arti membaca untuk menciptakan peluang yang lebih bagus dari tujuan hidup, terutama sekali peluang untuk perbaikan pada wilayah sentral: kesehatan fisik, kemakmuran finansial, kehormatan status sosial, kepiawaian profesionalitas, kematangan mental, keseimbangan emosional, atau keluhuran moralitas.
Tahapan untuk menajamkan kemampuan membaca dapat dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut:
1. Pengetahuan
Semua yang dibaca orang bisa dikatakan secara take for granted sudah memenuhi kepentingan untuk mengetahui sesuatu; membaca untuk mengetahui. Pengetahuan adalah kesimpulan asumsi atau dugaan yang telah diverifikasi oleh orang atau lembaga yang berwenang dengan berpedoman pada pendekatan Generally Applicable yang disusun berdasarkan latarbelakang persoalan makro. Atas dasar ini pengetahuan tidak lepas dari kepentingan lembaga atau orang dalam arti menurut ‘versi’. Artinya pengetahuan baru berbicara pada kebenaran dalam arti folk wisdom atau tatanan umum.
Dengan berpedoman bahwa manusia diberi jalan hidup melalui business of selling, maka secara pengetahuan semua yang ada di dalam, di luar, samping kiri-kanan atau depan belakang seseorang dapat dibisniskan. Tetapi prakteknya tidak cukup hanya berpedoman pengetahuan itu. Dengan kata lain, pengetahuan adalah raw material of power seperti pisau. Pengetahuan hanya untuk pengetahuan sudah dibuktikan tidak bekerja, mandul, dan supaya bisa bekerja maka pengetahuan membutuhkan mobilisasi.
2. Pemahaman
Memobilasi pengetahuan dapat diartikan dengan menciptakan pemahaman pribadi atau sudut pandang. Dari perumpamaan susunan kalimat “Theopportunityisnowhere” saja bisa menghasilkan sekian model bacaan yang akan menjadi sekian sudut pandang dan sudah jelas akan menjadi bahan keputusan untuk bertindak. Dalam hal ini menciptakan pemahaman adalah bagaimana anda merefleksikan pengetahuan yang sifatnya ‘generally applicable’ di atas menjadi ‘specifically applicable’ dengan setting persoalan mikro: anda dengan wilayah operasi dan konsentrasi.
Pemahaman inilah yang akan menikahkan antara apa yang anda ketahui dari materi tangible dan materi intangible yang bekerja di lapangan. Orang sering merasa bahwa pengetahuannya tidak berguna karena tidak sesuai dengan kenyataan di lapangan padahal yang belum diperoleh adalah pemahaman. Logikanya, bagaimana mungkin buku yang dikarang di luar negeri oleh orang luar negeri dengan tatanan latarbelakang persoalan yang berbeda secara ruang dan waktu lalu diterapkan tanpa proses pengolahan lebih lanjut di meja kerja. Tetapi perlu diakui bahwa pemahaman anda tentang sesuatu baru berupa kreasi internal dan belum dapat dikatakan prestasi. Supaya pemahaman anda menjadi dasar prestasi, maka jadikan pemahaman anda sebagai materi tindakan sebab tindakan adalah prestasi hidup pertama kali.
3. Penghakiman
Membaca keadaan harus berakhir dengan penghakiman, eksekusi atau keputusan untuk bertindak. Intinya adalah eksekusi tindakan untuk menciptakan prestasi. Sebagai hakim anda mengetuk palu keputusan atas keabsahan hukum berdasarkan pengetahuan dan pemahaman anda. Seorang hakim yang menjalankan keputusan dan ternyata keputusan itu salah maka ia sudah mendapat reward satu kali dari hukum alam dan mendapat reward dua kali apabila keputusan itu benar. Sebaliknya hakim yang tidak menjalankan keputusannya meskipun keputusan itu benar maka ia telah dihakimi salah oleh hukum alam.
Melihat kenyataan bagaimana orang membaca keadaan bisa diperoleh kesimpulan seperti orang menggambar piramida; makin ke atas makin sedikit. Sebagian besar orang tahu bahwa krisis adalah sesuatu yang tidak enak namun hanya sebagian kecil yang memahami bahwa di balik krisis terdapat peluang, dan hanya sedikit sekali, bahkan bisa disebut pengecualian, yang mengambil eksekusi untuk berani bertindak. Kalau dibanding jumlah penduduk yang melebihi 200 juta jiwa, bisa anda hitung berapa persen yang mampu membaca “The Opportunity Is Now Here”. Berada dalam kelompok manakah anda saat ini? Semoga berguna. (jp)
_____________________________
Oleh Ubaydillah, (e-psikologi)
Terlalu Banyak Informasi, Bikin Pusing
Dewasa ini kita begitu dibanjiri informasi.Hebatnya, sebuah informasi yang dulunya begitu sulit didapat, sekarang tidak lagi. Tinggal klik, ratusan informasi berkaitan dengannya segera didapat.
Information is power. Saya setuju. Di era informasi ini, tidak heran lagi kita melihat orang-orang umur dua puluhan atau belasan tahun sudah bisa meraih sukses begitu fantastis. Ya, semua itu dimungkinkan saat ini.
Ketergantungan kita terhadap informasi begitu tinggi. Bagaimana rasanya kalau sehari aja nggak buka internet, download email, baca berita koran? Nggak enak kan?
Masalahnya sekarang adalah, informasi itu menjadi berlimpah, overloaded. Saat ini begitu banyak yang harus kita ingat, bukan lagi nomor KTP dan SIM saja, tapi segala macam kode PIN, nomor telepon, password, user name, alamat email dan sebagainya.
Bagaimana sikap kita terhadap banjirnya informasi ini? Terus mengikutinya, atau malah jadi terbebani dengannya. Len Riggio, CEO Barnes and Noble meramalkan, di abad ke-21 ini orang akan menelan obat untuk membantu mengosongkan pikiran. Ini nanti akan jadi tren, seperti menurunkan berat badan dan diet.
Bagi seorang entrepreneur, informasi itu jelas penting. Di balik informasi itu tersimpan gunung emas. Tapi, seperti yang saya alami, kelebihan informasi seperti saat ini bikin pusing juga. Karena, nggak semuanya bisa kita follow up jadi duit. Malah, sering membuat fokus kita buyar. Kita berlari menembak ke segala arah. Hasilnya? Banyak sasaran yang lolos.
Saya sendiri memilih bersikap hati-hati terhadap semua informasi yang didapat. Saya berusaha menarik diri dari informasi itu, bersikap netral, sedikit skeptis. Setelah itu barulah saya memutuskan apakah informasi itu berguna untuk ditindaklanjuti atau tidak.
Saya pun saat ini membatasi informasi yang masuk ke dalam otak saya. Saya tidak baca koran harian, saya tidak ikut banyak mailing list, saya alihkan saluran TV ke saluran berlangganan karena saya muak dengan TV lokal yang banyak berisikan materi "sampah". Saat browsing internet, saya fokus ke beberapa situs yang memang benar-benar sesuai dengan aktivitas saya. Beberapa gadget seperti pocket PC juga mulai saya tinggalkan. Paling tidak, itu upaya saya untuk menghindari penyakit "overload informasi" ini.
Ada kerabat saya yang mengalami stress berat karena kelebihan informasi ini. Ceritanya, dia dideteksi dokter ada penyakit yang diakibatkan oleh gaya hidup dan pola kerjanya sehari-hari. Tapi, kerabat ini tidak puas dengan informasi dokter itu saja. Dia browsing internet mengenai segala pertanyaan yang berkaitan dengan penyakitnya itu. Hasilnya, dia menjadi stress berat. Dia pun menjajal beberapa dokter lain untuk mempercepat penyembuhan dan memenuhi keingintahuannya ini. Alhasil, dia pun mengalami over dosis obat, kelebihan obat.
Saya kira di bisnis pun begitu. Kita terus mencari informasi yang penting buat mengembangkan bisnis kita. Oke-oke aja sih. Tapi, kalau akhirnya malah jadi pusing dan nggak tahu apa yang musti dilakukan, buat apa?
Seni mengosongkan pikiran. Itu salah satu jawabnya menurut saya. Kita harus pintar memilah-milah informasi yang masuk ke dalam otak kita. Kemudian membuang yang tidak perlu. Lebih baik yang masuk sedikit saja, tapi benar-benar berguna ketimbang banyak sehingga overload. Padahal itu semua ternyata kebanyakan adalah "sampah".
(http://roniyuzirman.blogspot.com)
Information is power. Saya setuju. Di era informasi ini, tidak heran lagi kita melihat orang-orang umur dua puluhan atau belasan tahun sudah bisa meraih sukses begitu fantastis. Ya, semua itu dimungkinkan saat ini.
Ketergantungan kita terhadap informasi begitu tinggi. Bagaimana rasanya kalau sehari aja nggak buka internet, download email, baca berita koran? Nggak enak kan?
Masalahnya sekarang adalah, informasi itu menjadi berlimpah, overloaded. Saat ini begitu banyak yang harus kita ingat, bukan lagi nomor KTP dan SIM saja, tapi segala macam kode PIN, nomor telepon, password, user name, alamat email dan sebagainya.
Bagaimana sikap kita terhadap banjirnya informasi ini? Terus mengikutinya, atau malah jadi terbebani dengannya. Len Riggio, CEO Barnes and Noble meramalkan, di abad ke-21 ini orang akan menelan obat untuk membantu mengosongkan pikiran. Ini nanti akan jadi tren, seperti menurunkan berat badan dan diet.
Bagi seorang entrepreneur, informasi itu jelas penting. Di balik informasi itu tersimpan gunung emas. Tapi, seperti yang saya alami, kelebihan informasi seperti saat ini bikin pusing juga. Karena, nggak semuanya bisa kita follow up jadi duit. Malah, sering membuat fokus kita buyar. Kita berlari menembak ke segala arah. Hasilnya? Banyak sasaran yang lolos.
Saya sendiri memilih bersikap hati-hati terhadap semua informasi yang didapat. Saya berusaha menarik diri dari informasi itu, bersikap netral, sedikit skeptis. Setelah itu barulah saya memutuskan apakah informasi itu berguna untuk ditindaklanjuti atau tidak.
Saya pun saat ini membatasi informasi yang masuk ke dalam otak saya. Saya tidak baca koran harian, saya tidak ikut banyak mailing list, saya alihkan saluran TV ke saluran berlangganan karena saya muak dengan TV lokal yang banyak berisikan materi "sampah". Saat browsing internet, saya fokus ke beberapa situs yang memang benar-benar sesuai dengan aktivitas saya. Beberapa gadget seperti pocket PC juga mulai saya tinggalkan. Paling tidak, itu upaya saya untuk menghindari penyakit "overload informasi" ini.
Ada kerabat saya yang mengalami stress berat karena kelebihan informasi ini. Ceritanya, dia dideteksi dokter ada penyakit yang diakibatkan oleh gaya hidup dan pola kerjanya sehari-hari. Tapi, kerabat ini tidak puas dengan informasi dokter itu saja. Dia browsing internet mengenai segala pertanyaan yang berkaitan dengan penyakitnya itu. Hasilnya, dia menjadi stress berat. Dia pun menjajal beberapa dokter lain untuk mempercepat penyembuhan dan memenuhi keingintahuannya ini. Alhasil, dia pun mengalami over dosis obat, kelebihan obat.
Saya kira di bisnis pun begitu. Kita terus mencari informasi yang penting buat mengembangkan bisnis kita. Oke-oke aja sih. Tapi, kalau akhirnya malah jadi pusing dan nggak tahu apa yang musti dilakukan, buat apa?
Seni mengosongkan pikiran. Itu salah satu jawabnya menurut saya. Kita harus pintar memilah-milah informasi yang masuk ke dalam otak kita. Kemudian membuang yang tidak perlu. Lebih baik yang masuk sedikit saja, tapi benar-benar berguna ketimbang banyak sehingga overload. Padahal itu semua ternyata kebanyakan adalah "sampah".
(http://roniyuzirman.blogspot.com)
Yang Mana Anda: Si Stuck Atau Si Unstuck?
Hidup di rantau penuh dengan tantangan. Kebanyakan mitos yang terdengar adalah kemampuan bahasa yang sangat menentukan keberhasilan seseorang. Dengan perkataan lain, apabila kemampuan bahasa seseorang di perantau kurang memadai, maka kemungkinan besar seseorang tidak akan berhasil. Benarkah demikian?
Jawabannya: tidak benar.
Walaupun penting, kemampuan berbahasa dalam bahasa setempat (seperti Bahasa Inggris di Amerika Serikat, Britania Raya dan Australia) tentu akan menunjang keberhasilan dalam membukakan pintu peluang, namun kemampuan mengartikulasikan pikiran dalam bentuk komunikasi yang dapat diterima dalam kultur setempatlah yang sebenarnya jauh lebih penting. Juga sikap kerja (attitude) yang etislah yang sangat menentukan keberhasilan seseorang di tanah rantau.
Selama hampir sepuluh tahun di perantauan, tepatnya di Amerika Serikat, saya telah merasakan sendiri dan melihat dengan mata kepala dan mata hati sendiri bahwa bentuk komunikasi yang paling mengena bukanlah dengan menggunakan grammar dan choices of words yang sempurna, melainkan dengan kemampuan mengekspresikan pikiran dan perasaan dengan cara yang seefisien mungkin dalam
bentuk komunikasi verbal dan non-verbal. Ini bisa dilihat dari pendatang-pendatang baru yang kemampuan berbahasanya --walaupun kedengaran cukup lancar di telinga perantauan saya-- masih kurang sempurna di telinga penduduk setempat.
Ada beberapa sesama teman seperantauan yang sangat cepat melesat karirnya. Sebaliknya ada pula yang totally stuck di satu titik saja selama bertahun-tahun, bahkan masih sering nebeng pula dengan teman-temannya yang unstuck. Lantas, sebenarnya apa yang membedakan mereka? Bukankah mereka sama-sama dari Indonesia dan (kebanyakan) mempunyai latar belakang kehidupan masa lalu yang mirip pula?
Untuk mempermudah deskripsi saya di bawah, mari kita sebut saja mereka yang cepat melesat karirnya sebagai si "Unstuck" dan mereka yang jalan di tempat si "Stuck."
Si "Unstuck," biasanya mempunyai kemampuan berkomunikasi yang universal (selalu menjaga etika, banyak mendengarkan dan percaya diri tanpa perlu menjatuhkan orang lain) attitude yang berbeda dibandingkan dengan si "Stuck." Bagi si Unstuck, tantangan adalah sumber gairah dan energy yang sangat berharga. Dalam kata lain, dengan kesulitan --termasuk kesulitan dalam berkomunikasi-- ia menemukan makna hidup. Dengan demikian, ia membuka pintu-pintu keberhasilan baginya di masa depan (di tingkat "etheral," dalam bahasa New Age-nya).
Bagi si Stuck, tantangan adalah sesuatu yang ingin dihindarkan setiap saat. Saya ingat betapa ada seorang teman yang selalu
mengeluh baik ketika tidak mendapatkan pekerjaan, sedang mencari pekerjaan dan bahkan ketika sudah diterima kerja.
Keluhannya walaupun hanya untuk hal-hal kecil saja, namun bagi si Unstuck, ini adalah salah satu bentuk "invitation" bagi kegagalan.
Coba saja bayangkan. Si Stuck ini sering mengeluh betapa "kejam"nya bosnya di tempat kerja, maka ketika suatu hari kehadirannya di tempat kerja sangat diperlukan, ia bilang, "Mereka lagi mau pindahan kantor, mendingan gua tidak masuk kerja saja, supaya mereka tahu rasa kekurangan orang." Wah, dengan mengeluh kepada si Unstuck, sebenarnya si Stuck ini sudah membuka pintu kegagalan.
Maksudnya apa? Well, siapa sebenarnya yang mau mempekerjakan seseorang yang tidak etis (tidak profesional)? Ingatlah bahwa "what you say says a lot about you" (apa yang Anda katakan kepada orang lain sebenarnya mencerminkan siapa Anda).
Kalau saja pihak yang mempekerjakan si Stuck ini sampai mendengar perkataannya, bukankah pintu promosi sudah langsung tertutup baginya? Belum lagi kalau si Unstuck temannya itu mempunyai potensi untuk mempekerjakan si Stuck. Bukankah ini adalah promosi buruk (bad personal branding) bagi si Stuck?
Ada lagi beberapa perbedaan antara si "Stuck" dan si "Unstuck".
Stuck: Senang meminta. Senang menerima yang gratis-gratis tanpa merasa obligated untuk membalas budi.
Unstuck: Senang memberi. Tidak senang menerima barang-barang gratis (ingat there is no free lunch, semuanya mesti dibayar baik sekarang maupun nanti --bukankah lebih baik sekarang?).
Kalaupun diberi sesuatu, ia selalu membalas budi baik orang lain
dengan segera.
Stuck: Berpikir dengan perasaan dan merasa dengan pikiran. Sering mengalami konflik antara pikiran dan perbuatan,sehingga apa yang dikomunikasikan mempunyai "logical fallacy."
Unstuck: Berpikir dengan pikiran dan merasa dengan perasaan. Paralel dan tidak ada konflik antara pikiran dan perbuatan.
Dalam istilah Ilmu Logika, perbuatan-perbuatannya adalah perbuatan yang sahih.
Stuck: Mengikuti tren (misalnya senang mendengarkan pendapat orang lain, menjadi "pengikut" pendapat orang lain).
Unstuck: Menciptakan tren (tidak memperdulikan omongan negatif orang lain, sepanjang apa yang diincar adalah halal dan bisa membantu orang banyak baik secara langsung maupun tidak langsung).
Stuck: Tidak berani menghadapi tantangan baru (lebih baik "stuck" di satu tempat daripada mengubah diri sendiri untuk memenuhi kebutuhan baru yang akan membawanya ke kehidupan yang lebih baik).
Unstuck: Senang menghadapi tantangan baru, bahkan selalu mencari- carinya di setiap kesempatan.
Stuck: Senang memerangi masalah saat itu juga karena merasa egonya tertantang.
Unstuck: Memilih masalah yang harus diperangi (choose your battle) dan mana yang harus dilepaskan karena tidak worth it dari segi spending tenaga dan pikiran.
Stuck: Sering menyalahkan orang lain (blaming) dan mengeluh (whining). Bahkan ada orang selalu mengeluh sehingga ia tidak bisa lagi melihat berkat (blessing) di depan matanya.
Unstuck: Tidak menyalahkan siapa-siapa. What already happened, happened. Yang penting adalah solving the problem, bukan blaming dan whining.
Stuck: Tidak pernah double checking pendapat orang lain. Dalam kata lain, percaya saja kepada gosip secara penuh, tanpa mendengarkan dari pihak lain yang terlibat.
Unstuck: Selalu double checking dan tidak langsung mempercayai gosip atau isyu-isyu yang beredar.
Stuck: Lebih memusatkan kepada kemampuan berbahasa, bukan komunikasi efisien dan kemampuan adaptasi kultural.
Unstuck: Memusatkan kepada kemampuan berkomunikasi efisien dan adaptasi kultural, bukan yang dapat diukur oleh grammar dan mekanisa bahasa.
Stuck: Biasanya tidak berani mengungkapkan siapa dirinya sebenarnya (ada unsur "merahasiakan" asal-usul dan beberapa hal lainnya yang semestinya bukanlah rahasia).
Unstuck: Terbuka dan transparan dalam bertindak.
Berani untuk diaudit oleh siapapun karena kebenaran akan selalu berada di pihaknya.
Oke, sekarang kalau Anda merantau, kira-kira yang mana Anda?
Sumber: Yang Mana Anda: si Stuck atau si Unstuck?
oleh Jennie S.
Bev. Jennie S. Bev adalah penulis perantauan yang
telah menerbitkan 15 buku dalam bentuk elektronik di Amerika Serikat.
Pada tahun 2003, ia dinobatkan sebagai EPPIE Award Finalist for
excellence in electronic publishing.
Jawabannya: tidak benar.
Walaupun penting, kemampuan berbahasa dalam bahasa setempat (seperti Bahasa Inggris di Amerika Serikat, Britania Raya dan Australia) tentu akan menunjang keberhasilan dalam membukakan pintu peluang, namun kemampuan mengartikulasikan pikiran dalam bentuk komunikasi yang dapat diterima dalam kultur setempatlah yang sebenarnya jauh lebih penting. Juga sikap kerja (attitude) yang etislah yang sangat menentukan keberhasilan seseorang di tanah rantau.
Selama hampir sepuluh tahun di perantauan, tepatnya di Amerika Serikat, saya telah merasakan sendiri dan melihat dengan mata kepala dan mata hati sendiri bahwa bentuk komunikasi yang paling mengena bukanlah dengan menggunakan grammar dan choices of words yang sempurna, melainkan dengan kemampuan mengekspresikan pikiran dan perasaan dengan cara yang seefisien mungkin dalam
bentuk komunikasi verbal dan non-verbal. Ini bisa dilihat dari pendatang-pendatang baru yang kemampuan berbahasanya --walaupun kedengaran cukup lancar di telinga perantauan saya-- masih kurang sempurna di telinga penduduk setempat.
Ada beberapa sesama teman seperantauan yang sangat cepat melesat karirnya. Sebaliknya ada pula yang totally stuck di satu titik saja selama bertahun-tahun, bahkan masih sering nebeng pula dengan teman-temannya yang unstuck. Lantas, sebenarnya apa yang membedakan mereka? Bukankah mereka sama-sama dari Indonesia dan (kebanyakan) mempunyai latar belakang kehidupan masa lalu yang mirip pula?
Untuk mempermudah deskripsi saya di bawah, mari kita sebut saja mereka yang cepat melesat karirnya sebagai si "Unstuck" dan mereka yang jalan di tempat si "Stuck."
Si "Unstuck," biasanya mempunyai kemampuan berkomunikasi yang universal (selalu menjaga etika, banyak mendengarkan dan percaya diri tanpa perlu menjatuhkan orang lain) attitude yang berbeda dibandingkan dengan si "Stuck." Bagi si Unstuck, tantangan adalah sumber gairah dan energy yang sangat berharga. Dalam kata lain, dengan kesulitan --termasuk kesulitan dalam berkomunikasi-- ia menemukan makna hidup. Dengan demikian, ia membuka pintu-pintu keberhasilan baginya di masa depan (di tingkat "etheral," dalam bahasa New Age-nya).
Bagi si Stuck, tantangan adalah sesuatu yang ingin dihindarkan setiap saat. Saya ingat betapa ada seorang teman yang selalu
mengeluh baik ketika tidak mendapatkan pekerjaan, sedang mencari pekerjaan dan bahkan ketika sudah diterima kerja.
Keluhannya walaupun hanya untuk hal-hal kecil saja, namun bagi si Unstuck, ini adalah salah satu bentuk "invitation" bagi kegagalan.
Coba saja bayangkan. Si Stuck ini sering mengeluh betapa "kejam"nya bosnya di tempat kerja, maka ketika suatu hari kehadirannya di tempat kerja sangat diperlukan, ia bilang, "Mereka lagi mau pindahan kantor, mendingan gua tidak masuk kerja saja, supaya mereka tahu rasa kekurangan orang." Wah, dengan mengeluh kepada si Unstuck, sebenarnya si Stuck ini sudah membuka pintu kegagalan.
Maksudnya apa? Well, siapa sebenarnya yang mau mempekerjakan seseorang yang tidak etis (tidak profesional)? Ingatlah bahwa "what you say says a lot about you" (apa yang Anda katakan kepada orang lain sebenarnya mencerminkan siapa Anda).
Kalau saja pihak yang mempekerjakan si Stuck ini sampai mendengar perkataannya, bukankah pintu promosi sudah langsung tertutup baginya? Belum lagi kalau si Unstuck temannya itu mempunyai potensi untuk mempekerjakan si Stuck. Bukankah ini adalah promosi buruk (bad personal branding) bagi si Stuck?
Ada lagi beberapa perbedaan antara si "Stuck" dan si "Unstuck".
Stuck: Senang meminta. Senang menerima yang gratis-gratis tanpa merasa obligated untuk membalas budi.
Unstuck: Senang memberi. Tidak senang menerima barang-barang gratis (ingat there is no free lunch, semuanya mesti dibayar baik sekarang maupun nanti --bukankah lebih baik sekarang?).
Kalaupun diberi sesuatu, ia selalu membalas budi baik orang lain
dengan segera.
Stuck: Berpikir dengan perasaan dan merasa dengan pikiran. Sering mengalami konflik antara pikiran dan perbuatan,sehingga apa yang dikomunikasikan mempunyai "logical fallacy."
Unstuck: Berpikir dengan pikiran dan merasa dengan perasaan. Paralel dan tidak ada konflik antara pikiran dan perbuatan.
Dalam istilah Ilmu Logika, perbuatan-perbuatannya adalah perbuatan yang sahih.
Stuck: Mengikuti tren (misalnya senang mendengarkan pendapat orang lain, menjadi "pengikut" pendapat orang lain).
Unstuck: Menciptakan tren (tidak memperdulikan omongan negatif orang lain, sepanjang apa yang diincar adalah halal dan bisa membantu orang banyak baik secara langsung maupun tidak langsung).
Stuck: Tidak berani menghadapi tantangan baru (lebih baik "stuck" di satu tempat daripada mengubah diri sendiri untuk memenuhi kebutuhan baru yang akan membawanya ke kehidupan yang lebih baik).
Unstuck: Senang menghadapi tantangan baru, bahkan selalu mencari- carinya di setiap kesempatan.
Stuck: Senang memerangi masalah saat itu juga karena merasa egonya tertantang.
Unstuck: Memilih masalah yang harus diperangi (choose your battle) dan mana yang harus dilepaskan karena tidak worth it dari segi spending tenaga dan pikiran.
Stuck: Sering menyalahkan orang lain (blaming) dan mengeluh (whining). Bahkan ada orang selalu mengeluh sehingga ia tidak bisa lagi melihat berkat (blessing) di depan matanya.
Unstuck: Tidak menyalahkan siapa-siapa. What already happened, happened. Yang penting adalah solving the problem, bukan blaming dan whining.
Stuck: Tidak pernah double checking pendapat orang lain. Dalam kata lain, percaya saja kepada gosip secara penuh, tanpa mendengarkan dari pihak lain yang terlibat.
Unstuck: Selalu double checking dan tidak langsung mempercayai gosip atau isyu-isyu yang beredar.
Stuck: Lebih memusatkan kepada kemampuan berbahasa, bukan komunikasi efisien dan kemampuan adaptasi kultural.
Unstuck: Memusatkan kepada kemampuan berkomunikasi efisien dan adaptasi kultural, bukan yang dapat diukur oleh grammar dan mekanisa bahasa.
Stuck: Biasanya tidak berani mengungkapkan siapa dirinya sebenarnya (ada unsur "merahasiakan" asal-usul dan beberapa hal lainnya yang semestinya bukanlah rahasia).
Unstuck: Terbuka dan transparan dalam bertindak.
Berani untuk diaudit oleh siapapun karena kebenaran akan selalu berada di pihaknya.
Oke, sekarang kalau Anda merantau, kira-kira yang mana Anda?
Sumber: Yang Mana Anda: si Stuck atau si Unstuck?
oleh Jennie S.
Bev. Jennie S. Bev adalah penulis perantauan yang
telah menerbitkan 15 buku dalam bentuk elektronik di Amerika Serikat.
Pada tahun 2003, ia dinobatkan sebagai EPPIE Award Finalist for
excellence in electronic publishing.
Mengubah Pola Pikir
Sekelompok wisatawan tertahan di suatu tempat asing di luar kota . Mereka hanya menemukan bahan makanan yang kedaluwarsa. Karena lapar, mereka terpaksa menyantapnya, meskipun sebelumnya dicobakan dulu kepada seekor anjing yang ternyata menikmatinya dan tak terlihat efek sampingnya. Keesokan harinya, ketika mendengar anjing itu mati, semua orang menjadi cemas. Banyak yang mulai muntah dan mengeluh badannya panas atau terserang diare. Seorang dokter dipanggil untuk merawat para penderita keracunan makanan. Kemudian sang dokter mulai mencari sebab-musabab kematian si anjing yang dijadikan hewan percobaan tersebut. Ketika dilacak, eh ternyata anjing itu sudah mati karena terlindas mobil. Apa yang menarik dari cerita di atas ? Ternyata kita bereaksi menurut apa yang kita pikirkan, bukan berdasarkan kenyataan itu sendiri. We see the world as we are, not as it is. Akar segala sesuatu adalah cara kita melihat. Cara kita melihat mempengaruhi apa yang kita lakukan, dan apa yang kita lakukan mempengaruhi apa yang kita dapatkan. Ini disebut sebagai model See - Do - Get ...
Perubahan yang mendasar baru akan terjadi ketika ada perubahan cara melihat ;
Ada cerita menarik mengenai sepasang suami-istri yang telah bercerai. Suatu hari, Astri, nama wanita ini, datang ke kantor Roy , mantan suaminya. Saat itu Roy sedang melayani seorang pelanggan. Melihat Astri menunggu dengan gelisah, pimpinan kantor menghampirinya dan lalu mengajaknya berbincang-bincang. Si Bos berkata, "Saya begitu senang, suami Anda bekerja untuk saya. Dia seorang yang sangat berarti dalam perusahaan kami, begitu penuh perhatian dan baik budinya." Astri terperangah mendengar pujian si bos, tapi ia tak berkomentar apa-apa. Roy ternyata mendengar komentar si bos. Setelah Astri pergi, ia menjelaskan kepada bosnya, "Kami tak hidup bersama lagi sejak 6 bulan lalu, dan sekarang dia hanya datang menemui saya bila ia membutuhkan tambahan uang untuk putra kami. " Beberapa minggu kemudian telepon berbunyi untuk Roy.Ia mengangkatnya dan berkata, "Baiklah Ma, kita akan melihat rumah itu bersama setelah jam kerja." Setelah itu ia menghampiri bosnya dan berkata, "Astri dan saya telah memutuskan memulai lagi perkawinan kami. Dia mulai melihat saya secara berbeda tak lama setelah Bapak berbicara padanya tempo hari." Bayangkan, perubahan drastis terjadi semata - mata karena perubahan dalam cara melihat. Awalnya, Astri mungkin melihat suaminya sbg seorang yang menyebalkan, tapi ternyata di mata orang lain Roy sungguh menyenangkan. Astrilah yang mengajak rujuk, dan mereka kembali menikmati rumah tangga yang jauh lebih indah dari sebelumnya.
Segala sesuatu yang kita lakukan berakar dari cara kita melihat masalah. Karena itu, bila ingin mengubah kehidupan kita, kita perlu melakukan revolusi cara berpikir. Stephen Covey pernah mengatakan : "Kalau kita menginginkan perubahan kecil dalam hidup, garaplah perilaku kita, tapi bila Anda menginginkan perubahan-perubahan yang besar dan mendasar, garaplah paradigma kita" Covey benar, perubahan tidak selalu dimulai dari cara kita melihat (See). Ia bisa juga dimulai dari perilaku kita (Do). Namun, efeknya sangat berbeda.
Ini contoh sederhana :
Seorang anak bernama Alisa yang berusia empat tahun selalu menolak kalau diberi minyak ikan. Padahal, itu diperlukan untuk meningkatkan perkembangan otak serta daya tahan tubuhnya. Betapapun dibujuk, ia tetap menolak. Dengan maksud baik, kadang-kadang ia dipaksa menelan minyak ikan. Ia menangis dan meronta-ronta. Usaha tersebut memang berhasil memaksanya, tapi ini bukan win-win solution. Si orang tua menang, ia kalah. Ini pendekatan yang dimulai dengan Do. Maka ditemukanlah cara lain yaitu dengan mengubah paradigma Alisa. Si orang tua tau Alisa sangat suka sirup, karena itu minyak ikan tersebut di aduk dengan air dalam gelas. Ternyata, ia sangat gembira dan menikmati "sirup" minyak ikan itu. Bahkan, sekarang ia tak mau mandi sebelum minum "sirup" tersebut. Contoh sederhana ini menggambarkan proses perubahan yang bersifat inside-out (dari dalam ke luar). Perubahan ini bersifat sukarela dan datang dari Alisa sendiri. Jadi, tidak ada keterpaksaan. Inilah perubahan yang diawali dengan See. Perubahan yang dimulai dengan Do, bersifat sebaliknya, yaitu outside-in. Perubahan seperti ini sering disertai penolakan. Jangankan dengan bawahan, dengan anak kecil seperti Alisa saja, hal ini sudah bermasalah.Pendekat an hukum bersifat outside-in dan dimulai dengan Do. Orang tidak korupsi karena takut akan hukumannya, bukan karena kesadaran. Pada dasarnya orang tersebut belum berubah, karena itu ia masih mencari celah-celah yang dapat dimanfaatkannya. Pendekatan SDM berusaha mengubah cara berpikir orang. Akar Korupsi sebenarnya adalah pada cara orang melihat. Selama jabatan dilihat sebagai kesempatan menumpuk kekayaan, bukannya sebagai amanah yang harus dipertanggung- jawabkan, selama itu pula korupsi tak akan pernah hilang. Inilah pendekatan inside-out. Memang jauh lebih sulit, tetapi efek yang dihasilkannya jauh lebih mendasar. Cara kita melihat masalah sesungguhnya adalah masalah itu sendiri. Karena itu, untuk mengubah kehidupan, yg perlu Anda lakukan cuma satu :
" Ubahlah cara Anda melihat masalah "
Mulailah melihat atasan yang otoriter, bawahan yang tak kooperatif, pelanggan yang cerewet dan pasangan yang mau menang sendiri sebagai tantangan dan rahmat yang terselubung.
Orang-orang ini sangat berjasa bagi kita karena dapat membuat kita lebih kompeten, lebih profesional, lebih arif dan lebih sabar.
John Gray, pengarang buku Men Are from Mars and Women Are from Venus, melihat masalah dan kesulitan dengan cara yang berbeda.Ujarnya,
" Semua kesulitan sesungguhnya merupakan kesempatan bagi jiwa kita untuk tumbuh "
Sumber e-mail forward
Perubahan yang mendasar baru akan terjadi ketika ada perubahan cara melihat ;
Ada cerita menarik mengenai sepasang suami-istri yang telah bercerai. Suatu hari, Astri, nama wanita ini, datang ke kantor Roy , mantan suaminya. Saat itu Roy sedang melayani seorang pelanggan. Melihat Astri menunggu dengan gelisah, pimpinan kantor menghampirinya dan lalu mengajaknya berbincang-bincang. Si Bos berkata, "Saya begitu senang, suami Anda bekerja untuk saya. Dia seorang yang sangat berarti dalam perusahaan kami, begitu penuh perhatian dan baik budinya." Astri terperangah mendengar pujian si bos, tapi ia tak berkomentar apa-apa. Roy ternyata mendengar komentar si bos. Setelah Astri pergi, ia menjelaskan kepada bosnya, "Kami tak hidup bersama lagi sejak 6 bulan lalu, dan sekarang dia hanya datang menemui saya bila ia membutuhkan tambahan uang untuk putra kami. " Beberapa minggu kemudian telepon berbunyi untuk Roy.Ia mengangkatnya dan berkata, "Baiklah Ma, kita akan melihat rumah itu bersama setelah jam kerja." Setelah itu ia menghampiri bosnya dan berkata, "Astri dan saya telah memutuskan memulai lagi perkawinan kami. Dia mulai melihat saya secara berbeda tak lama setelah Bapak berbicara padanya tempo hari." Bayangkan, perubahan drastis terjadi semata - mata karena perubahan dalam cara melihat. Awalnya, Astri mungkin melihat suaminya sbg seorang yang menyebalkan, tapi ternyata di mata orang lain Roy sungguh menyenangkan. Astrilah yang mengajak rujuk, dan mereka kembali menikmati rumah tangga yang jauh lebih indah dari sebelumnya.
Segala sesuatu yang kita lakukan berakar dari cara kita melihat masalah. Karena itu, bila ingin mengubah kehidupan kita, kita perlu melakukan revolusi cara berpikir. Stephen Covey pernah mengatakan : "Kalau kita menginginkan perubahan kecil dalam hidup, garaplah perilaku kita, tapi bila Anda menginginkan perubahan-perubahan yang besar dan mendasar, garaplah paradigma kita" Covey benar, perubahan tidak selalu dimulai dari cara kita melihat (See). Ia bisa juga dimulai dari perilaku kita (Do). Namun, efeknya sangat berbeda.
Ini contoh sederhana :
Seorang anak bernama Alisa yang berusia empat tahun selalu menolak kalau diberi minyak ikan. Padahal, itu diperlukan untuk meningkatkan perkembangan otak serta daya tahan tubuhnya. Betapapun dibujuk, ia tetap menolak. Dengan maksud baik, kadang-kadang ia dipaksa menelan minyak ikan. Ia menangis dan meronta-ronta. Usaha tersebut memang berhasil memaksanya, tapi ini bukan win-win solution. Si orang tua menang, ia kalah. Ini pendekatan yang dimulai dengan Do. Maka ditemukanlah cara lain yaitu dengan mengubah paradigma Alisa. Si orang tua tau Alisa sangat suka sirup, karena itu minyak ikan tersebut di aduk dengan air dalam gelas. Ternyata, ia sangat gembira dan menikmati "sirup" minyak ikan itu. Bahkan, sekarang ia tak mau mandi sebelum minum "sirup" tersebut. Contoh sederhana ini menggambarkan proses perubahan yang bersifat inside-out (dari dalam ke luar). Perubahan ini bersifat sukarela dan datang dari Alisa sendiri. Jadi, tidak ada keterpaksaan. Inilah perubahan yang diawali dengan See. Perubahan yang dimulai dengan Do, bersifat sebaliknya, yaitu outside-in. Perubahan seperti ini sering disertai penolakan. Jangankan dengan bawahan, dengan anak kecil seperti Alisa saja, hal ini sudah bermasalah.Pendekat an hukum bersifat outside-in dan dimulai dengan Do. Orang tidak korupsi karena takut akan hukumannya, bukan karena kesadaran. Pada dasarnya orang tersebut belum berubah, karena itu ia masih mencari celah-celah yang dapat dimanfaatkannya. Pendekatan SDM berusaha mengubah cara berpikir orang. Akar Korupsi sebenarnya adalah pada cara orang melihat. Selama jabatan dilihat sebagai kesempatan menumpuk kekayaan, bukannya sebagai amanah yang harus dipertanggung- jawabkan, selama itu pula korupsi tak akan pernah hilang. Inilah pendekatan inside-out. Memang jauh lebih sulit, tetapi efek yang dihasilkannya jauh lebih mendasar. Cara kita melihat masalah sesungguhnya adalah masalah itu sendiri. Karena itu, untuk mengubah kehidupan, yg perlu Anda lakukan cuma satu :
" Ubahlah cara Anda melihat masalah "
Mulailah melihat atasan yang otoriter, bawahan yang tak kooperatif, pelanggan yang cerewet dan pasangan yang mau menang sendiri sebagai tantangan dan rahmat yang terselubung.
Orang-orang ini sangat berjasa bagi kita karena dapat membuat kita lebih kompeten, lebih profesional, lebih arif dan lebih sabar.
John Gray, pengarang buku Men Are from Mars and Women Are from Venus, melihat masalah dan kesulitan dengan cara yang berbeda.Ujarnya,
" Semua kesulitan sesungguhnya merupakan kesempatan bagi jiwa kita untuk tumbuh "
Sumber e-mail forward
Subscribe to:
Posts (Atom)