Usia 20-an merupakan usia yang sangat penting dalam perjalanan kehidupan keuangan seseorang. Mengapa? karena setiap keputusan atau kebiasaan yang dilakukan saat usia ini bisa sangat mempengaruhi prilaku dan kebiasaan keuangan di masa datang.
Selama sekolah mulai dari Tk, SD, SMP, SMA dan masa kuliah, tidak pernah kita diperkenalkan dengan ilmu keuangan personal. Semua itu kita dapat dari melihat orang lain, terutama orang tua kita dan berbagai iklan di media masa. Yang harus disadari, bahwa semua itu belum tentu pelajaran keuangan yang baik bagi kita.
Oleh karenanya kami melihat pentingnya bagi orang-orang di usia 20-an untuk belajar dan memahami pentingnya perencanaan keuangan individu bagi mereka. Umumnya, mereka yang berada pada rentang usia 18-24 tahun belum menikah. Walau ada juga yang sudah.
Keuangan individu harus mulai dirancang dan direncanakan sebijak mungkin di rentang usia ini. Bila kita sudah memiliki pendapatan regular, berupa apa saja, mulai dari gaji sampai komisi, semua ini membutuhkan perencanaan agar tercapai keinginan hidup yang lebih baik di masa datang. Mulailah dengan rencana dan lakukan selama perjalanan kehidupan Anda, baik Anda masih sendiri maupun sudah berkeluarga.
Konsumsi vs Komitmen
Di rentang usia ini biasanya kita baru memasuki masa kerja dan mendapatkan pendapatan yang regular. Sebagain besar penduduk Indoensia sudah mengenal bank, demikian pula dengan kita. Dengan pendapatan regular, kita mulai ditawarkan berbagai kemudahan, seperti kartu kredit. Utang mulai menjadi hal yang biasa dbagi kita, karena berbagai kemudahan yang diberikan. Dalam masa ini, biasanya kita lebih mengutamakan diri sendiri dengan berbelanja semua keinginan kita, karena kita merasa ini uang kita. Semua keputusan keuangan diambil karena keinginan, bukan kebutuhan.
Kita lupa, di rentang usia ini, satu hal yang menjadi kelebihan kita adalah waktu. Kita masih memiliki waktu yang cukup panjang untuk dapat merencanakan apa yang kita inginkan dari penghasilan yang kita peroleh setiap bulannya. Jangan hanya melihat keinginan sesaat, tapi lihatlah lebih panjang.
Berpikir lebih panjang, mulailah menentukan tujuan yang kita inginkan di masa datang. Di usia ini, kita memiliki waktu cukup panjang bila memulainya sekarang. Tapi kalau kita menundanya, maka akan besar sekali harga yang harus dikeluarkan. Misalkan kita ingin memiliki uang disaat kita berusia 50 tahun sebesar Rp 1 miliar dan saat ini kita berusia 20 tahun. Kita masih memiliki waktu 30 tahun untuk mencapainya. Dengan asumsi tingkat bunga 10 %, maka kita hanya membutuhkan dana sebesar kira-kira Rp 465.000 setiap bulan untuk diinvestasikan. Tapi bagaimana bila kita menundanya 5 tahun saja, di mana kita mulai menabung secara regular di usia 25 tahun, maka untuk mencapai nilai Rp 1 miliar kita harus menabung kurang lebih Rp 770.000 per bulannya. Dengan asumsi tingkat bunga sama 10 %. Bila Anda menundanya 10 tahun maka nilai tabungan kita akan meningkat lagi menjadi Rp 1.325.00 per bulannya.
Semakin panjang waktu yang dimiliki akan semakin sedikit nilai tabungan yang harus diinvestasikan dengan asumsi tingkat bunga sama dan nilai yang dituju sama. Jadi kalau dilihat dari perhitungan di atas, keinnginan menjadi miliarder tidaklah terlalu sulit, yang dibutuhkan adalah komitmen kita.
Perencanaan Anggaran
Kita baru saja mendapatkan pekerjaan dan memperoleh pemasukan dan jerih payah kita sendiri. Tentunya hal ini akan banyak mempengaruhi gaya hidup yang akan kita jalani. Hal terpenting bagi kita yang baru mulai bekerja adalah mengembangkan sebuah catatan untuk menyeimbangkan pemasukan dengan pengeluaran. Pekerjaan ini sangat membosankan tapi mengikuti berbagai pengelauran yang Anda lakukan akan banyak memberikan masukan kepada kita akan arah perjalanan keuangan kita di masa datang.
Kami sarankan, kita mulai mencatat semua pengeluaran yang kita lakukan setiap bulannya, tidak ada pengecualian. Semua pengeluaran baik yang kecil mapun besar harus dicatat. Kami menyadari bahwa hal ini tidaklah mudah dan menyenangkan. Tapi kami sangat yakin catatan ini akan memberikan banyak masukan dan pelajaran bagi kita untuk mengelola keuangan lebih bijak lagi di masa datang.
Catatan pengeluaran yang kita buat bisa dilakukan dengan cara yang paling mudah, dengan hanya pinsil dan kertas, atau kita dapat memanfaatkan berbagai program keuangan yang dapat membantu kita untuk mengumpulkan berbagai transaksi pengeluaran yang kita lakukan setiap bulannya.
Setelah membuat catatan pengeluaran, selanjutnya adalah menganalisa pengeluaran yang kita lakukan. Apakah sepatu merupakan hal yang membebani anggaran Anda? Atau tiket konser atau hiburan? Atau belanja untuk makan sehari-hari lebih besar dari makan malam setiap akhir minggu? Bila banyak yang dirasa kurang baik, jangan salahkan diri kita. Bersukurlah sekarang kita dapat melihat hal-hal yang kurang baik dan di jangka panjang kita dapat memperbaikinya.
Ingatlah untuk mengalokasikan untuk diri kita sendiri terlebih dahulu “pay yourself first”. Jangan kita lupa, satu hal terpenting dari pengeluaran yang kita lakukan adalah membayar untuk diri kita sendiri atau menabung. Masukkan anggaran untuk investasi dalam catatan pengeluaran yang telah dibuat.
Aturan dalam mengembangkan perencanaan anggaran adalah sebagai berikut:
Pertama, jujur terhadap diri kita sendiri karena semua ini adalah untuk kita dan masa depan kita. Kalau kita tidak bisa jujur terhadap diri kita sendiri, maka bagaimana kita dapat merencanakan kehidupan yang lebih baik di masa datang?
Kedua, tentukan tujuan keuangan yang realistik dimana kita berkomitmen untuk mencapainya. Hal ini akan jauh lebih baik dari pada menginginkan sesuatu yang “wah” tapi kita tidak memiliki keinginan untuk mencapainya.
Ketiga, usahakan agar kita terbuka untuk berbagai perbaikan. Meninjau ulang berbagai pengeluaran yang kita lakukan adalah langkah bijak untuk merenda perjalanan kehidupan keuangan yang lebih baik di masa datang.
Utang dan Kartu Kredit
Dengan tingkat suku bunga yang mencapai tingkat terendah dalam sejarah, kita tentunya seperti beribu-ribu orang lainnya, memanfaatkan uang orang lain untuk membeli sesuatu, seperti membeli rumah yang lebih baik atau mobil. Dengan mulai naiknya tingkat suku bunga, ada baiknya bila kita meninjau ulang berbagai utang yang kita miliki saat ini.
Salah satu jenis kredit atau utang yang sebaiknya diperhatikan dengan bijak adalah penggunaan kartu kredit. Kartu kredit memiliki banyak sekali kemudahan, tapi jangan kemudahan tersebut malah membuat Anda terlilit utang yang berkepanjangan.
Yang harus diingat, prinsip utang dengan kartu kredit merupakan utang jangka pendek sehingga pelunasannya sebaiknya diusahakan dapat dilakukan kurang dari 3 bulan (mengingat besarnya bunga yang harus dibayar).
Dengan penghasilan regular tentunya akan sangat mudah bagi kita untuk mendapatkan kartu kredit. Banyak sekali kemudahan yang diberikan oleh kartu kredit, tapi banyak orang yang salah dalam memanfaatkannya. Yang tadinya dirasa sangat membantu, tapi ujung-ujungnya malah membuat kita kesulitan.
Di bawah ini kami daftarkan beberapa kemudahan yang diberikan oleh kartu kredit:
1. Kemudahan dalam bertransaksi dimana pengguna kartu kredit tidak usah membawa uang tunai untuk berbelanja.
2. Kemudahan dalam melakukan pembayaran yang bisa dilakukan dengan mencicil atau membayar minimun dari tagihan yang dikirim tiap bulannya.
3. Kemudahan dalam menggunakan dana pihak lain tanpa bunga bila dilakukan pembayaran lunas tiap tagihan datang (grace period).
4. Kemungkinan mendapatkan berbagai hadiah atau tawaran dengan harga terdiskon khusus bagi pemegang kartu kredit tertentu.
5. Tingkat keamanan yang cukup tinggi.
6. Kemudahan untuk mengambil uang tunai melalui ATM. Beberapa informasi berikut perlu diperhatikan:
a) Pada saat mengambil uang tunai melalui ATM, maka secara langsung dikenakan fee pengambilan yang besarannya sekitar 30 sampai 40 ribu (tergantung institusi penerbit).
b) Bunga bulanan secara langsung akan berlaku, tidak ada masa tenggang atau grace period pada transaksi melalui ATM.
c) Bunga yang dikenakan lebih tinggi dari bunga biasa yang dibebankan dalam tagihan pembelanjaan biasa, paling tidak 4 % per-bulan.
Nah dari semua kemudahan yang diberikan, kita sebagai pemakai harus bijak melihat hal ini, sehingga kita dapat memanfaatkannya untuk keuntungan kita.
Inilah beberapa tip berkaitan penggunaan kartu kredit yang bijak. Penggunaan kartu kredit sebaiknya sebagai alat pembayaran keperluan sehari-hari atau biaya bulanan yang sudah dianggarkan. Sehingga apabila tagihan bulanan datang maka dapat dibayar dengan lunas karena memang sudah ada pos anggarannya. Tidak dikenakan biaya bunga apapun.
Kami tidak menganjurkan untuk mengambil uang tunai melalui ATM dengan kartu kredit. Karena selain beban administratif, bunga yang dibebankan juga sangat tinggi. Akan tetapi kemudahan ini tentu saja dapat digunakan terutama di saat kondisi darurat.
Penggunaan lain yang juga kami sarankan adalah kartu kredit untuk keperluan darurat. Dengan memiliki kartu kredit kita memiliki plafon utang yang tersedia langsung untuk kebutuhan darurat. Apabila kita terpaksa menggunakannya maka yang harus selalu diingat adalah kewajiban membayar bunganya saat mencicil setiap bulan.
Nah kalau kita mengikuti saran di atas berkaitan dengan kartu kredit, kami sangat yakin kita dapat merenda keuangan lebih baik lagi di masa depan. Kartu kredit bukan sekadar kartu gaya-gayaan, seperti yang banyak ditawarkan belakangan ini. Tapi merupakan kartu plastik yang bisa menjerumuskan kita ke dalam utang berkepanjangan.
Ketiga topik utama yang kami ulas di atas, merupakan awal dalam membangun kehidupan keuangan yang lebih baik di masa datang. Dengan perencanaan yang dikelola secara baik dan bijak, kami yakin kehidupan keuangan kita di masa datang—berkeluarga—akan semakin nyaman. Semoga bermanfaat.n
Tim ISOL (Sinar Harapan)
Thursday, October 18, 2007
Apakah Satu Miliar Cukup Untuk Menjalani Masa Pensiun?
Sebut saja pasangan suami istri, Andi dan Tia, saat ini usia mereka diawal 50 tahunan. Mereka berharap uang yang selama ini ditabung untuk tujuan masa pensiun cukup untuk mereka gunakan. Saat ini Andi sebagai seorang arsitek, masih menjalani usahanya dengan baik. Sedangkan Tia, masih bekerja di sebuah perusahaan swasta dalam bidang advertising.
Pasangan suami istri, Andi dan Tia, saat ini berusia 50-an, dan mereka tidak pernah berpikir menjadi seorang miliarder, tapi dari total tabungan atau investasi yang mereka lakukan selama ini mencapai angka 1 miliar rupiah. Selama kurang lebih 25 tahun mereka menyisihkan sebagai dari pendapatan bulanannya untuk tujuan menjalani masa pensiun dengan aman dan sejahtera.
Namun demikian, 1 milliar rupiah saat ini tidaklah sama dengan 1 miliar rupiah 10 tahun yang lalu. Dengan 1 milia rrupiah 10 tahun yang lalu, kami sangat yakin dapat memenuhi semua kebutuhan yang Anda impikan dan menghapus mimpi buruk Anda mengenai kesulitan keuangan. Tapi apakah Rp 1 miliar saat ini dapat mencukupi kebutuhan masa pensiun?
Andi dan Tia bermaksud uang Rp 1 miliar yang mereka kumpulkan hanya untuk memenuhi kebutuhan mereka selama pensiun. Apakah menurut Anda jumlah tersebut dapat mencukupi? Mari kita pelajari satu-persatu.
Berapa Kebutuhan Tahunan Selama Pensiun?
Tentu saja, berapa lama satu miliar rupiah itu akan habis sangat dipengaruhi oleh pengeluaran atau kebutuhan yang diperlukan setiap tahunnya serta berapa lama Anda akan hidup. Dari sisi pengeluaran atau kebutuhan, banyak ahli keuangan yang mengatakan Anda membutuhkan minimal sekitar 70-80 persen dari pendapatan sebelum pensiun untuk dapat mempertahankan gaya hidup yang selama ini Anda jalani. Tentu saja Anda dapat mengeluarkan lebih sedikit dari ini, karena biasanya banyak pengaluaran regular yang tidak lagi Anda lakukan, seperti, cicilan mobil, rumah dan lain-lain. Namun, terkadang biaya lain meningkat seperti biaya pengobatan dan rekreasi atau berlibur bersama pasangan Anda.
Dari sisi harapan hidup, saat ini dengan semakin majunya teknologi kesehatan dan semakin tingginya kesadaran masyarakat akan makanan sehat, dapat dipastikan bahwa usia kita akan bertambah panjang. Dari sumber estimasi SUPAS, di dapat bahwa estimasi harapan hidup masyarakat Indonesia terus bertambah panjang. Tahun 1980, untuk laki-laki, usia harapan hidupnya sekitar 50 – 90 tahun. sedangkan wanita lebih panjang, 54 - 90 tahun. Tapi bila kita lihat di tahun 2000, usia harapan hidup untuk laki-laki menjadi 65 - 92 dan wanita menjadi 69 – 90 tahun. Kalau Anda perhatikan, selama kurang lebih 20 tahun, usia harapan hidup masyarakat Indonesia pada umumnya meningkat lebih 15 tahun. Jadi bagi Anda yang masih jauh masa pensiunnya, perhatikan 20 tahun mendatang mungkin akan naik 15 tahun lagi. (lihat tabel)
Sebagai prakiraan perhitungan kebutuhan masa pensiun, kami bisa memberikan contoh perhitungannya seperti berikut ini. Misalkan pendapatan Andi dan Tia tahun lalu Rp 120.000.000. dengan asumsi usia pensiun 55 dan kenaikan pendapatan 5 persen pertahun, pendapatan sebelum masa pensiun sekitar Rp 170 juta. Prakiraan kebutuhan masa pensiun diambil 70 persen dari pendapatan, sehingga kebutuhan di awal masa pensiun per tahun adalah sekitar Rp 119.200.000. (lihat tabel)
Nah, sekarang setelah kita mendapatkan kebutuhan tahunan yang dibutuhkan oleh Andi dan Tia, maka kita bisa mencoba menghitung, apakah satu miliar yang telah dikumpulkan bisa memenuhi kebutuhannya selama masa pensiun? Satu hal penting yang perlu diperhatikan adalah inflasi. Inflasi menggerogoti nilai uang Anda. semakin panjang masanya akan semakin besar pula penurunan daya beli atau nilai uang Anda.
Mari Berhitung
Kita asumsikan tingkat inflasi 6 persen pertahun. Mari kita lihat bagaimana dengan kondisi keuangan Andi dan Tia selama masa pensiun. Enam tahun setelah memasuki masa pensiun mereka membutuhkan dana sekitar Rp 169 juta per tahunnya. Lima tahun kemudian mereka membutuhkan sekitar Rp 226,3 juta. Kenaikan ini diakibatkan oleh adanya inflasi. Oleh karena itu, dalam perhitungan ini sangat diharuskan untuk mempertimbangkan inflasi.
Andi termasuk investor yang tidak terlalu suka dengan risiko. Ia lebih memilih investasi yang aman-aman saja. Walau begitu, ia sangat paham bahwa dengan pertimbangan investasi seperti ii kurang menjanjikan untuk masa pensiunnya.
Kalau Andi mengambil investasi dengan prakiraan tingkat pengembalian sekitar 2 persen diatas inflasi (konservatif), maka uang 1 miliar rupiah yang telah dikumpulkan akan hanya bertahan sampai 10 tahun masa pensiunnya atau diusia sekitar 65-an. Namun, kalau Andi lebih sedikit agresif dan menempatkan pada investasi dengan prakiraan tingkat pengembalian sekitar 6 persen di atas inflasi, maka dana tersebut akan bertahan selama 14 tahun sampai usia mereka 69 tahun.
Produk Anuitas
Selain Andi dan Tia tentunya bagi sebagian masyarakat, kehabisan dana yang telah dikumpulkan selama ini bisa sangat mengkhawatirkan. Oleh karena adakah satu produk yang dapat menjamin dana yang dibutuhkan selama kita masih hidup? Atau menjalani masa pensiun?
Anuitas jawabnya. Produk ini pada dasarnya sama dengan prosuk asuransi, yaitu memberikan proteksi terhadap kehilangan penghasilan, tetapi berbeda dari fungsi utamanya. Asuransi jiwa memberikan proteksi atas kemungkinan seseorang kehilangan penghasilan karena meninggal terlalu cepat, sedangkan anuitas, memberikan proteksi atas kemungkinan sesorang membutuhkan penghasilan karena hidup terlalu lama. Produk ini bisa menjadi alternative pilihan yang kita butuhkan bila kita takut akan kehilangan pendapatan selama kita menjalani masa pensiun atau hidup kita lebih panjang daripada dana yang kita miliki.
Sebagai ilustrasi saja, bila Andi membeli produk anuitas, misalkan untuk jenis anuitas joint life, dengan asumsi tarif premi 14,03, maka Andi akan menerima seumur hidupnya dan seumur hidup pasangannya setiap tahun sekitar Rp 71 juta-an. Tentunya ini kurang dari yang mereka butuhkan (dari hitungan di awal pertahun mereka memperkirakan kebutuhan sebesar Rp 119,200,000). Namun, dalam hal ini Anda tidak lagi dipusingkan kehabisan dana selam hidupnya, kalau ternyata Andi berumur panjang, sampai usianya 80 tahun-an.
Rumah Bisa Menjadi Sumber Dana yang Besar
Disaat Anda masih bekerja dan membesarkan anak-anak, tentunya Anda membutuhkan ruang atau rumah yang cukup besar. Dengan berjalnnya waktu, anak-anak Anda sudah tidak lagi tinggal di rumah, mereka sudah mandiri, dan tinggal Anda dan pasangan Anda dirumah yang besar itu. Tinggal Anda dan pasangan Anda di rumah yang besar, tentunya membutuhkan banyak biaya.
Andi dan Tia saat ini memiliki rumah yang cukup besar dan diderah perumahan yang relative baik. Apakah Andi membutuhkan ruang atau rumah segitu besar? Tentunya tidak. Untuk itu, rumah itu bisa Anda jual dan membli rumah yang mungil namun asri untuk menjalani masa pensiun Anda berdua dengan pasangan Anda. Dari sisa dana hasil penjualan rumah yang Anda miliki bisa menjadi sarana tambahan dana bagi Anda untuk menjalani masa pensiun yang diinginkan.
Wah rumah kami dijual, tidaklah. Banyak sekali kenangan baik yang indah maupun sedih selama kami tinggal disana. Rumah biasanya memiliki histories tersendiri sehingga sulit untuk melepaskannya. Bila itu yang Anda rasakan, mungkin Anda bisa melakukan apa yang disebut reverse mortgages. Namun, fasilitas ini kami rasa belum ada di Indonesia. Tapi paling tidak Anda dapat mempelajari dan mendapat manfaat bila hal ini tersedia di Indonesia.
Cara kerja reverse mortgages. Dalam hal ini biasanya bank yang memberikan jasa ini dimana Anda menyerahkan sertifikat tanah yang Anda miliki dan sebagai gantinya bank akan memberikan sejumlah dana secara regular selama masa yang ditentukan atau sampai Anda meninggal. Setelah masa itu berlalu, maka tanah dan bangunan dimana Anda tinggal menjadi hak bank tersebut. Dengan jasa ini, Anda dapat memanfaatkan rumah yang Anda miliki sebagai salah satu sumber pendapatan selama masa pensiun.
Nah kembali ke pertanyaan judul di atas, apakah 1 miliar rupiah cukup untuk dapat hidup sejahtera selama masa pensiun? Bila pendapatan serta pengeluaran Anda sekitar pendapatan Andi dan Tia maka 1 miliar rupiah itu akan cukup bila:
Anda siap menempatkan dana yang Anda miliki di investasi yang terdevirsifikasi dengan alokasi dana dalam saham selama masa pensiun yang Anda jalani.
Anda bisa memanfaatkan semua aset yang Anda miliki (dalam hal ini rumah) sebagai alternatif sumber dana dimasa pensiun.
Anda memiliki pertanggungan yang berbeda terhadap diri Anda dan pasangan Anda dari musibah terutama dari segi kesehatan.
Apakah Andai akan pensiun? Kalau melihat dari cara kerja seorang arsitek sebenarnya Andi bisaja saja terus bekerja selama ia masih dibutuhkan
Tentunya bila ia memutuskan untuk berhenti bekerja, maka dana yang sudah terkumpul harusnya sudah mencukupi untuk keperluan masa pensiun mereka. Bagaimana dengan Anda? n
Tim ISOL (Sinar Harapan)
Pasangan suami istri, Andi dan Tia, saat ini berusia 50-an, dan mereka tidak pernah berpikir menjadi seorang miliarder, tapi dari total tabungan atau investasi yang mereka lakukan selama ini mencapai angka 1 miliar rupiah. Selama kurang lebih 25 tahun mereka menyisihkan sebagai dari pendapatan bulanannya untuk tujuan menjalani masa pensiun dengan aman dan sejahtera.
Namun demikian, 1 milliar rupiah saat ini tidaklah sama dengan 1 miliar rupiah 10 tahun yang lalu. Dengan 1 milia rrupiah 10 tahun yang lalu, kami sangat yakin dapat memenuhi semua kebutuhan yang Anda impikan dan menghapus mimpi buruk Anda mengenai kesulitan keuangan. Tapi apakah Rp 1 miliar saat ini dapat mencukupi kebutuhan masa pensiun?
Andi dan Tia bermaksud uang Rp 1 miliar yang mereka kumpulkan hanya untuk memenuhi kebutuhan mereka selama pensiun. Apakah menurut Anda jumlah tersebut dapat mencukupi? Mari kita pelajari satu-persatu.
Berapa Kebutuhan Tahunan Selama Pensiun?
Tentu saja, berapa lama satu miliar rupiah itu akan habis sangat dipengaruhi oleh pengeluaran atau kebutuhan yang diperlukan setiap tahunnya serta berapa lama Anda akan hidup. Dari sisi pengeluaran atau kebutuhan, banyak ahli keuangan yang mengatakan Anda membutuhkan minimal sekitar 70-80 persen dari pendapatan sebelum pensiun untuk dapat mempertahankan gaya hidup yang selama ini Anda jalani. Tentu saja Anda dapat mengeluarkan lebih sedikit dari ini, karena biasanya banyak pengaluaran regular yang tidak lagi Anda lakukan, seperti, cicilan mobil, rumah dan lain-lain. Namun, terkadang biaya lain meningkat seperti biaya pengobatan dan rekreasi atau berlibur bersama pasangan Anda.
Dari sisi harapan hidup, saat ini dengan semakin majunya teknologi kesehatan dan semakin tingginya kesadaran masyarakat akan makanan sehat, dapat dipastikan bahwa usia kita akan bertambah panjang. Dari sumber estimasi SUPAS, di dapat bahwa estimasi harapan hidup masyarakat Indonesia terus bertambah panjang. Tahun 1980, untuk laki-laki, usia harapan hidupnya sekitar 50 – 90 tahun. sedangkan wanita lebih panjang, 54 - 90 tahun. Tapi bila kita lihat di tahun 2000, usia harapan hidup untuk laki-laki menjadi 65 - 92 dan wanita menjadi 69 – 90 tahun. Kalau Anda perhatikan, selama kurang lebih 20 tahun, usia harapan hidup masyarakat Indonesia pada umumnya meningkat lebih 15 tahun. Jadi bagi Anda yang masih jauh masa pensiunnya, perhatikan 20 tahun mendatang mungkin akan naik 15 tahun lagi. (lihat tabel)
Sebagai prakiraan perhitungan kebutuhan masa pensiun, kami bisa memberikan contoh perhitungannya seperti berikut ini. Misalkan pendapatan Andi dan Tia tahun lalu Rp 120.000.000. dengan asumsi usia pensiun 55 dan kenaikan pendapatan 5 persen pertahun, pendapatan sebelum masa pensiun sekitar Rp 170 juta. Prakiraan kebutuhan masa pensiun diambil 70 persen dari pendapatan, sehingga kebutuhan di awal masa pensiun per tahun adalah sekitar Rp 119.200.000. (lihat tabel)
Nah, sekarang setelah kita mendapatkan kebutuhan tahunan yang dibutuhkan oleh Andi dan Tia, maka kita bisa mencoba menghitung, apakah satu miliar yang telah dikumpulkan bisa memenuhi kebutuhannya selama masa pensiun? Satu hal penting yang perlu diperhatikan adalah inflasi. Inflasi menggerogoti nilai uang Anda. semakin panjang masanya akan semakin besar pula penurunan daya beli atau nilai uang Anda.
Mari Berhitung
Kita asumsikan tingkat inflasi 6 persen pertahun. Mari kita lihat bagaimana dengan kondisi keuangan Andi dan Tia selama masa pensiun. Enam tahun setelah memasuki masa pensiun mereka membutuhkan dana sekitar Rp 169 juta per tahunnya. Lima tahun kemudian mereka membutuhkan sekitar Rp 226,3 juta. Kenaikan ini diakibatkan oleh adanya inflasi. Oleh karena itu, dalam perhitungan ini sangat diharuskan untuk mempertimbangkan inflasi.
Andi termasuk investor yang tidak terlalu suka dengan risiko. Ia lebih memilih investasi yang aman-aman saja. Walau begitu, ia sangat paham bahwa dengan pertimbangan investasi seperti ii kurang menjanjikan untuk masa pensiunnya.
Kalau Andi mengambil investasi dengan prakiraan tingkat pengembalian sekitar 2 persen diatas inflasi (konservatif), maka uang 1 miliar rupiah yang telah dikumpulkan akan hanya bertahan sampai 10 tahun masa pensiunnya atau diusia sekitar 65-an. Namun, kalau Andi lebih sedikit agresif dan menempatkan pada investasi dengan prakiraan tingkat pengembalian sekitar 6 persen di atas inflasi, maka dana tersebut akan bertahan selama 14 tahun sampai usia mereka 69 tahun.
Produk Anuitas
Selain Andi dan Tia tentunya bagi sebagian masyarakat, kehabisan dana yang telah dikumpulkan selama ini bisa sangat mengkhawatirkan. Oleh karena adakah satu produk yang dapat menjamin dana yang dibutuhkan selama kita masih hidup? Atau menjalani masa pensiun?
Anuitas jawabnya. Produk ini pada dasarnya sama dengan prosuk asuransi, yaitu memberikan proteksi terhadap kehilangan penghasilan, tetapi berbeda dari fungsi utamanya. Asuransi jiwa memberikan proteksi atas kemungkinan seseorang kehilangan penghasilan karena meninggal terlalu cepat, sedangkan anuitas, memberikan proteksi atas kemungkinan sesorang membutuhkan penghasilan karena hidup terlalu lama. Produk ini bisa menjadi alternative pilihan yang kita butuhkan bila kita takut akan kehilangan pendapatan selama kita menjalani masa pensiun atau hidup kita lebih panjang daripada dana yang kita miliki.
Sebagai ilustrasi saja, bila Andi membeli produk anuitas, misalkan untuk jenis anuitas joint life, dengan asumsi tarif premi 14,03, maka Andi akan menerima seumur hidupnya dan seumur hidup pasangannya setiap tahun sekitar Rp 71 juta-an. Tentunya ini kurang dari yang mereka butuhkan (dari hitungan di awal pertahun mereka memperkirakan kebutuhan sebesar Rp 119,200,000). Namun, dalam hal ini Anda tidak lagi dipusingkan kehabisan dana selam hidupnya, kalau ternyata Andi berumur panjang, sampai usianya 80 tahun-an.
Rumah Bisa Menjadi Sumber Dana yang Besar
Disaat Anda masih bekerja dan membesarkan anak-anak, tentunya Anda membutuhkan ruang atau rumah yang cukup besar. Dengan berjalnnya waktu, anak-anak Anda sudah tidak lagi tinggal di rumah, mereka sudah mandiri, dan tinggal Anda dan pasangan Anda dirumah yang besar itu. Tinggal Anda dan pasangan Anda di rumah yang besar, tentunya membutuhkan banyak biaya.
Andi dan Tia saat ini memiliki rumah yang cukup besar dan diderah perumahan yang relative baik. Apakah Andi membutuhkan ruang atau rumah segitu besar? Tentunya tidak. Untuk itu, rumah itu bisa Anda jual dan membli rumah yang mungil namun asri untuk menjalani masa pensiun Anda berdua dengan pasangan Anda. Dari sisa dana hasil penjualan rumah yang Anda miliki bisa menjadi sarana tambahan dana bagi Anda untuk menjalani masa pensiun yang diinginkan.
Wah rumah kami dijual, tidaklah. Banyak sekali kenangan baik yang indah maupun sedih selama kami tinggal disana. Rumah biasanya memiliki histories tersendiri sehingga sulit untuk melepaskannya. Bila itu yang Anda rasakan, mungkin Anda bisa melakukan apa yang disebut reverse mortgages. Namun, fasilitas ini kami rasa belum ada di Indonesia. Tapi paling tidak Anda dapat mempelajari dan mendapat manfaat bila hal ini tersedia di Indonesia.
Cara kerja reverse mortgages. Dalam hal ini biasanya bank yang memberikan jasa ini dimana Anda menyerahkan sertifikat tanah yang Anda miliki dan sebagai gantinya bank akan memberikan sejumlah dana secara regular selama masa yang ditentukan atau sampai Anda meninggal. Setelah masa itu berlalu, maka tanah dan bangunan dimana Anda tinggal menjadi hak bank tersebut. Dengan jasa ini, Anda dapat memanfaatkan rumah yang Anda miliki sebagai salah satu sumber pendapatan selama masa pensiun.
Nah kembali ke pertanyaan judul di atas, apakah 1 miliar rupiah cukup untuk dapat hidup sejahtera selama masa pensiun? Bila pendapatan serta pengeluaran Anda sekitar pendapatan Andi dan Tia maka 1 miliar rupiah itu akan cukup bila:
Anda siap menempatkan dana yang Anda miliki di investasi yang terdevirsifikasi dengan alokasi dana dalam saham selama masa pensiun yang Anda jalani.
Anda bisa memanfaatkan semua aset yang Anda miliki (dalam hal ini rumah) sebagai alternatif sumber dana dimasa pensiun.
Anda memiliki pertanggungan yang berbeda terhadap diri Anda dan pasangan Anda dari musibah terutama dari segi kesehatan.
Apakah Andai akan pensiun? Kalau melihat dari cara kerja seorang arsitek sebenarnya Andi bisaja saja terus bekerja selama ia masih dibutuhkan
Tentunya bila ia memutuskan untuk berhenti bekerja, maka dana yang sudah terkumpul harusnya sudah mencukupi untuk keperluan masa pensiun mereka. Bagaimana dengan Anda? n
Tim ISOL (Sinar Harapan)
Sebuah Pesan Kepada Wirausahawan Indonesia
Di era 1970-an, TVRI pernah menyiarkan siaran pembinaan kewirausahaan di bawah asuhan seorang tokoh bernama DR. Suparman Sumahamidjaya. Wah, inilah acara kegemaran saya, yang tidak pernah saya lewatkan setiap kali acara tsb. ditayangkan (setiap hari Selasa setiap minggu). Kalau tidak salah, itulah pertama kalinya -- dengan restu pemerintah – nilai-nilai kewirausahaan ditanamkan ke dalam benak masyarakat Indonesia melalui acara televisi. Tujuannya jelas, bahwa pemerintah menyadari keterbatasannya dalam hal penyediaan lapangan kerja, sehingga, dengan kampanye kewiraswastaan, masyarakat diharapkan dapat menolong dirinya sendiri secara ekonomi.
Di masa itu, istilah yang dipakai secara umum adalah “wiraswasta”, sedangkan istilah “wirausaha” baru muncul beberapa waktu kemudian, dan populer sampai sekarang. Menurut DR. Suparman, kata “wiraswasta” adalah terjemahan dari sebuah kata dalam bahasa asing (Perancis), “entrepreneur”, yang bila diuraikan akan menjadi seperti ini:
wira, berarti berani, jujur, tulus dan berbudi luhur
swa, artinya “sendiri”
sta, maknanya “berusaha”
Secara keseluruhan, kata-kata itu melukiskan figur seseorang yang menjalankan usaha secara mandiri, dilandasi sifat dan sikap yang luhur. Dengan demikian, seorang pengusaha, baik “wira”-swasta, mau pun “wira”-usaha, seharusnya memiliki sifat-sifat yang baik dan terpuji. Tidak berkolusi dengan pejabat, tidak memanipulasi takaran/timbangan, tidak serakah, tidak menyikut orang lain dan tidak mata duitan. Yang terakhir inilah yang sebenarnya ingin saya bahas dalam kesempatan ini.
Seperempat abad berlalu setelah era DR. Suparman, perkembangan kewirausahaan sungguh sangat menggembirakan. Meski pun pada kenyataannya, penerimaan Pegawai Negeri Sipil (PNS) masih diminati pelamar yang datang berduyun-duyun, namun di balik itu, ada fenomena yang bagi saya benar-benar mencengangkan. Sekarang ini, banyak sekali angkatan muda yang berminat, bahkan sangat terobsesi menerjuni bidang kewirausahaan. Kursus-kursus kewirausahan tumbuh bak jamur di musim hujan, bisnis waralaba terus merebak, tidak saja yang global, tapi terutama sekali yang lokal bertebaran di mana-mana. Klub-klub dan milis-milis entrepreneur juga bermunculan. Terlebih lagi, ternyata sudah banyak tokoh-tokoh muda Indonesia yang menjadi pakar bisnis, mentor-mentor kewirausahaan, konsultan-konsultan entrepreneurship yang naik ke panggung-panggung seminar, pelatihan serta lokakarya yang dengan begitu brilliannya membawakan topik-topik pembicaraan tentang kiat-kiat hidup sukses.
Terus terang saya kagum dan senang sekali dengan kenyataan bahwa kaum muda Indonesia sudah dapat berekspresi sedemikian rupa, cerdas dan bijak. Semoga fenomena ini tidak semata-mata fenomenal, seperti kata orang dulu, hangat-hangat tahi ayam, tapi akan terus berkembang dan bertumbuh. Makin banyak tokoh wirausaha yang dilahirkan, dan makin banyak pula pengusaha-pengusaha “bersih” yang muncul bahu-membahu memperkokoh ketahanan ekonomi bangsa.
Motivasi ala Amerika
Hanya ada satu hal yang masih mengusik perasaan saya. Dari berbagai pembicaraan di seminar, di pembicaraan sehari-hari bahkan di milis, terlalu sering saya mendengar ungkapan “bagaimana menjadi kaya”. Apalagi setelah nama Robert Kiyosaki melambung, maka pemeo “retired young, retired rich” seakan sudah menjadi jargon kalangan muda yang menamakan diri sebagai “entrepreneur”. Apa benar seorang entrepreneur sejati, memotivasi diri hanya sebatas “retired young, retired rich”? Pensiun muda pensiun kaya? Setelah itu apa?
Sebagai seorang pengamat kewirausahaan, saya melihat bahwa wacana profesionalisme, kewirausahaan serta kiat-kiat hidup sukses banyak didominasi oleh tokoh-tokoh yang berasal dari Amerika. Mereka inilah yang banyak mencuatkan kata-kata tentang kekayaan, tentang kelimpahan uang, rumah mewah sampai kapal pesiar dan pesawat pribadi. Tiga puluh tahun yang lalu saja, orang sudah kenal dengan yang namanya Napoleon Hill. Tokoh ini sangat masyhur dengan bukunya “Think and Grow Rich” (Berfikir dan Menjadi Kaya). Seorang tokoh lain, Tyler G. Hicks, dalam bab pertama bukunya “How To Start Your Own Business..”menulis: “Ketahuilah Nikmat Menjadi Kaya. Hanya Dengan Bekerja Di Rumah.dst..” serta bercerita bagaimana dia menghabiskan waktu liburnya di atas kapal pesiar. Anthony Robbins dalam “Awaken The Giant Within” juga menyinggung soal kekayaan materi berupa pesawat pribadinya. Lantas muncul lagi Robert Kiyosaki yang mengajarkan bagaimana menjadi kaya dengan jalan menyuruh uang bekerja untuk kita. Lalu populerlah pemeo yang tadi: “retired young, retired rich”..!!
Saya tidak mengatakan bahwa menjadi kaya itu salah. Bahkan dalam banyak hal, menjadi kaya itu jauh lebih baik dari pada menjadi miskin. Saya hanya khawatir, bahwa kita sedang berbicara kepada publik di Indonesia yang sedang parah-parahnya terjangkit demam konsumerisme, materialisme serta korupsi Bukan tidak mungkin, penghamburan kata-kata tentang kekayaan serta motivasi berlebihan tentang kekayaan akan menjadikan orang terbius dengan angan-angan yang melambung, sehingga suatu saat, sewaktu sadar bahwa kekayaan itu tidak datang dengan segera, akhirnya mereka mengambil jalan pintas.
Apakah tidak ada hal lain yang lebih ideal untuk memotivasi orang agar mau bekerja keras?
Kiranya perlu diperbandingkan, mengapa pembicara-pembicara Amerika menggunakan isu kekayaan sebagai motif, dan bagaimana dampaknya bila hal yang sama diterapkan di Indonesia. Betapa pun Amerika jelas berbeda dengan Indonesia. Negeri Paman Sam adalah negeri termakmur di dunia, negara terkuat yang didukung oleh sumber daya manusia paling berkualitas di seantero jagat. Tingkat kemiskinan sudah bisa dianggap nol. Oleh sebab itu, tidak akan ada lagi wacana yang menarik publik Amerika, apabila yang dibicarakan hanya sekadar tentang bagaimana keluar dari perangkap kemiskinan, atau bagaimana mengatasi status pengangguran dengan jalan menjadi wirausahawan. Jelas itu tidak akan menarik lagi. Harus dicarikan hal lain yang lebih bombastis. Maka kekayaanlah yang dianggap cukup “menjual”, karena dengan menjadi kaya barulah orang di Amerika merasa bermakna dan “terpandang”. Di suatu negeri yang rata-rata warganya sudah mapan dalam hal ekonomi, menjadi kaya (raya) hanyalah merupakan refleksi sebuah prestasi. Tidak ada beban moral atas kekayaan itu, karena semua orang di sekitar juga sudah hidup berkecukupan.
Bagaimana dengan di Indonesia?
Selama ini saya agak cemas, melihat betapa para motivator kita hanya mengedepankan isu kekayaan, kenikmatan hidup duniawi yang egoistis bahkan menjurus hedonis, serta mudahnya menjadi kaya, tanpa perlu kerja keras. Adakah kehidupan ini benar-benar semudah membalikkan tangan? Di tengah-tengah hiruk-pikuknya isu entrepreneurship sekarang ini, beberapa mentor, dalam usaha memotivasi para peminat bisnis, bahkan menggunakan slogan yang tidak tanggung-tanggung: “Kalau ingin kaya, jangan kerja keras, tapi jadilah pemalas..!”
Mungkin, beliau-beliau ini secara tersirat ingin menganjurkan apa yang disebut dengan “smart work”, kerja cerdas yang memungkinkan efisiensi waktu, biaya dan energi demi pencapaian target dalam bingkai waktu yang telah direncanakan. Dan bukannya “hard work” versi buruh pabrik yang nyaris tidak pernah merasakan manisnya madu kesuksesan, karena kesuksesan itu telah menjadi hak milik abadi dari para majikan mereka.
Namun demikian, slogan tetaplah slogan. Kalimat-kalimat pendek berisiko menyebabkan salah kaprah. Misalnya, menjadi pemalas itu tidak perlu diajarkan atau dianjurkan. Sifat malas memang sudah “bakat alam” semua manusia, apalagi orang Indonesia, termasuk saya. Jadi rasanya tidak perlulah menganjurkan orang menjadi pemalas. Kalau slogan lain mengatakan “Jadilah Kaya Hanya Dengan Bekerja Di Rumah”, maka kemungkinan besar orang akan menyerap kata-kata “kaya”nya saja, tapi mengabaikan kata “bekerja”. “Bekerja Di Rumah” akan menjadi berarti “Berleha-leha Di Rumah”. Pada saat sekian lama berleha-leha di rumah dan kekayaan tidak kunjung datang, maka jalan pintas pun menjadi pilihan berikut.
Banyak contoh tentang orang-orang yang frustasi karena kepingin cepat kaya, lalu mengambil jalan pintas. Antara lain, bagaimana beberapa pengusaha berubah menjadi pembobol-pembobol bank, sebagian lagi mengedarkan bahkan membangun pabrik narkotika, penipu-penipu melalui sms hadiah, para birokrat yang menjalankan korupsi berjamaah dan lain sebagainya.
Kalau kembali kepada slogan “retired young, retired rich”, hendaklah kita bertanya kepada diri sendiri, sudah sedemikian egoisnyakah kita? Di saat-saat bangsa dan negara sedang ambur-adul dengan rakyat miskin dan busung lapar yang masih begitu banyak bertebaran di seluruh pelosok tanah air, tegakah kita berfikir untuk menjadi kaya-raya, pensiun muda lalu pergi keliling dunia dengan kapal pesiar dan pesawat pribadi?
Barangkali ada baiknya kalau kita mengambil acuan yang lebih sesuai. Kalau kita harus ber-“xenophilia” (gandrung dengan segala sesuatu yang berasal dari negeri asing), maka kita dapat menemukan pebisnis-pebisnis yang sangat ideal, yang pengarahan-pengarahannya lebih sesuai dengan kondisi Indonesia, antara lain Kim Woo Chong, CEO sekaligus pendiri dari imperium bisnis asal Korea, Daewoo. Atau Akio Morita, salah satu pemilik perusahaan raksasa dari Jepang, yaitu Sony. Kalau harus nasionalis, kita akan dapat menemukan pengusaha dengan idealisme tinggi, tidak lain adalah Thayeb M. Gobel, pendiri PT National Gobel. Dan kalau kita harus berbicara secara sedikit spiritual, kita juga akan bisa menyimak apa yang dikatakan oleh Mahatma Gandhi, atau meneladani Nabi yang juga pengusaha sekaligus penguasa, yaitu Muhammad SAW.
Apa kata mereka dan bagaimana cara mereka memotivasi orang?
Tambahkanlah Sedikit Idealisme Dalam Berbisnis
Idola saya dalam dunia usaha, adalah Kim Woo Chong, pendiri Daewoo. Kim tidak pernah merekomendasikan aktivitas yang bersifat hura-hura atau hedonisme. Jangankan berlibur dengan menikmati nyamannya kapal pesiar, bermain golf pun tidak pernah ia lakukan, meski perangkat golf yang paling canggih dia punya. Padahal, umumnya pegusaha pasti memanfaatkan permainan ini paling tidak sebagai sarana lobi. Begitu juga nonton bioskop, nyanyi di karaoke, minum-minum di pub dan lain sebagainya, pantang bagi Kim Woo Chong.
Semua aktivitas yang bersifat hura-hura diharamkan oleh Kim. Karena apa? Ia berpendapat, meski memiliki uang triliunan rupiah, ia tidak berhak menggunakannya secara semena-mena. Apalagi untuk kegiatan yang tidak jelas manfaatnya. Setiap sen dari uang yang dikeluarkan, harus dapat dipertanggungjawabkan, karena semua uang tersebut berasal dari jerih payah serta tetesan keringat bayak orang. Mulai dari karyawan, buruh, mandor, manajer, pemasok barang, sampai pelanggan.
Kim juga tidak suka akan wacana “pensiun muda, pensiun kaya”. Ia sangat kecewa ketika suatu kali bertemu dengan seorang pemuda penyandang gelar MBA, yang menyatakan tidak sanggup bekerja di Daewoo karena takut kerja keras. Bahkan ketika ditanya apa cita-citanya, sang pemuda menjawab bahwa ia ingin bekerja di perusahaan asing yang mau memberinya gaji besar tanpa harus kerja keras. Setelah beberapa tahun, dengan uang gaji yang dikumpulkannya, ia akan berhenti kerja, pensiun, lalu bersama pacarnya akan membuka kafe dan hidup santai, tenang dan tenteram sepanjang hidup.
Sikap seperti ini, menurut Kim, adalah cerminan dari sikap mental “melempem dan egois” yang ditunjukkan oleh tipikal generasi muda Korea, yang terlanjur terkena “sindrom kenyamanan”, sebagai dampak kemajuan industrialisasi.
Sebaliknya dari egoisme, seharusnya setiap generasi memiliki semangat pengorbanan, bekerja demi kesejahteraan banyak orang dan terutama sekali, demi kesejahteraan generasi berikutnya. Itulah kunci kenapa Amerika menjadi sebuah negeri yang benar-benar makmur dengan rakyatnya yang sejahtera. Generasi pendahulu merekalah yang telah bekerja keras membangun Amerika dari sejak ditemukannya, diteruskan oleh generasi-generasi berikutnya, sampai terwujud Amerika yang kaya raya seperti sekarang ini. Itulah idealisme yang seyogyanya dikobarkan oleh para motivator bisnis di Indonesia.
Semua usaha atau perusahaan yang baik dan ideal, umumnya dimulai dari sebuah idealisme. Bukan sekadar untuk menjadi kaya sendiri untuk kemudian berfoya-foya keliling dunia dan menghabiskan waktu di klub-klub malam. Mari kita lihat:
1) DAEWOO: Kim Woo Chong memulai usahanya dengan satu acuan tentang bagaimana mengatasi penderitaan bangsanya seusai Perang Korea di mana negara tersebut jatuh ke dalam kondisi ekonomi yang benar-benar hancur. Ia tidak memvisualisasikan dirinya kelak menjadi orang kaya, tapi sebaliknya ia mencita-citakan bangsa dan negara Korea yang bisa mengejar ketinggalannya dalam bidang-bidang ekonomi dan teknologi, terhadap negara-negara maju seperti Amerika Serikat dan negara-negara Eropa. Untuk bisa mengejar ketinggalan itu, ia menyimpulkan bahwa orang Korea harus mampu bekerja dalam jumlah jam kerja yang 2 kali lebih banyak dari jam kerja orang Amerika. Kim kemudian mencontohkan, bagaimana ia sendiri bekerja setiap hari mulai dari jam 5 pagi sampai jam 9 malam, sementara orang lain bekerja mulai dari jam 9 pagi hingga jam 5 sore.
2) SONY CORP: Akio Morita, memutuskan untuk mendirikan perusahaannya, Sony, dengan satu motivasi yang muncul akibat melihat bagaimana hancur luluhnya Jepang setelah dibom atom oleh Amerika. Peristiwa tersebut merupakan indikator bahwa bangsa Jepang ternyata masih kalah di segala bidang oleh Amerika, oleh karenanya, bangsa Jepang harus menebus kekalahannya itu dengan bekerja dan belajar sungguh-sungguh. Tidak satu literatur pun yang menceritakan bahwa Akio Morita berkhayal untuk menjadi orang kaya yang pelesiran ke sana ke mari keliling dunia.
3) PT NATIONAL GOBEL: Thayeb Mohammad Gobel, tadinya adalah seorang karyawan yang bekerja untuk orang lain. Tapi hati kecilnya berkata lain, bahwa ia ingin memiliki usahanya sendiri. Niat dan cita-citanya itu segera dia cetuskan, segera setelah melihat bagaimana banyak orang di Jakarta mandi, mencuci bahkan berkumur di kali Ciliwung yang airnya begitu kotor dan keruh, jauh dari nilai-nilai kesehatan. Ia insyaf itulah gambaran kemiskinan rakyat Indonesia dan ia berbulat tekad untuk berkontribusi mengatasi penderitaan banyak orang melalui perusahaan yang didirikannya, PT National Gobel.
4) MAHATMA GANDHI: adalah seorang tokoh politik sekaligus spiritual di India. Ia memberikan pengarahannya kepada masyarakat banyak tentang nilai-nilai sebuah aktivitas (kerja), yang jauh lebih berharga daripada uang (hasil kerja):” Kebahagian sejati itu terletak pada aktivitas kerja, bukan pada hasil kerja itu sendiri”..
5) NABI MUHAMMAD: Nabi Muhammad adalah seorang pedagang atau pengusaha, dan dalam perjalanan hidupnya ia bahkan menjadi seorang Khalifah (Kepala Negara). Sebagai seorang pemimpin yang berkuasa atas seluruh Jazirah Arab, maka kekayaan beliau sudah sulit untuk diukur, saking kayanya. Tapi apa yang dijalankan beliau dalam hidupnya adalah, ia hanya tinggal di sebuah rumah gubuk sederhana, tidur di atas selembar tikar sederhana pula, serta makan ala kadarnya. Jauh dari yang namanya hura-hura dan pemanjaan diri.
Dalam konteks apa yang saya paparkan di atas, maka saya ingin sekali mengajak saudara-saudara, teman-teman dan rekan-rekan para entrepreneur, calon entrepreneur, para mentor dan pelatih bisnis, instruktur pelatihan kewirausahan, para pembicara seminar dan lokakarya, agar seyogyanya dapat me-review isu-isu motivasinya yang selama ini mungkin hanya sebatas pada kekayaan materi semata. Sebab, isu kekayaan berisiko menimbulkan berbagai dampak yang kurang baik, antara lain orang menjadi egoistis dan kurang kepedulian pada sesama. Karena, bukankah kalau seseorang ingin menjadi kaya, harus ada pula mereka yang miskin? Di samping itu, motivasi kekayaan biasanya bersifat rapuh, karena, jika setelah sekian waktu bekerja dan ternyata kekayaan tidak kunjung datang, maka orang akan mudah putus asa dan malas bekerja lebih jauh.
Dan yang terakhir, orang akan terperangkap dalam sebuah gaya hidup yang disebut “Money Centered Life”, kehidupan yang berpusat kepada uang. Pada saat uang meninggalkan seseorang, maka hancur pulalah hidup orang tersebut. Sudahkan Anda pernah membaca kisah tentang akhir kehidupan yang tragis dari orang-orang super kaya Amerika yang terjebak dalam “Money Centered Life”, seperti Charles Schwab, Jessy Livermore, Ivan Krueger, Samuel Insull, Howard Hopson, Arthur Cotton, Richard Whitney, Leon Frasier, dan Albert Fall? Kalau belum dan Anda tertarik untuk membacanya, Anda bisa menghubungi saya dan saya akan mengirimkan 1 kopi dari cerita tersebut.
Tulisan ini saya persembahkan kepada segenap bangsa Indonesia tidak dengan maksud apa-apa, selain daripada panggilan jiwa untuk peduli kepada nasib bangsa ini, nasib sebagian besar saudara-saudara kita yang masih diterpa berbagai penderitaan berupa kemiskinan, kemelaratan, kelaparan serta kebodohan. Marilah kita bersama-sama bekerja keras membangun negeri tercinta ini melalui jalur apa saja sesuai dengan kemampuan kita masing-masing, terutama para rekan sejawat yang menyatakan diri sebagai entrepreneur, bekerjalah terus guna meraih kesejahteraan yang maksimal dan merata, yang bisa dinikmati semua warganegara secara adil. Lupakanlah wacana untuk menjadi kaya sendiri, dan lupakanlah semua khayalan tentang pensiun muda, karena wirausahawan tidak mengenal kata pensiun. Selama hayat dikandung badan, selama itu pula kita bisa berkontribusi pada orang banyak. Lupakan pula semua kesenangan duniawi, pelesiran dan hura-hura. Jangan lakukan itu selama masih sangat banyak saudara-saudara kita yang miskin dan kelaparan, yang anak-anaknya kurus kering kurang gizi dan tidak mampu bersekolah.
SALAM WIRAUSAHA
Rusman Hakim
Pengamat Kewirausahaan
(http://rusmanhakim.blogspot.com)
Di masa itu, istilah yang dipakai secara umum adalah “wiraswasta”, sedangkan istilah “wirausaha” baru muncul beberapa waktu kemudian, dan populer sampai sekarang. Menurut DR. Suparman, kata “wiraswasta” adalah terjemahan dari sebuah kata dalam bahasa asing (Perancis), “entrepreneur”, yang bila diuraikan akan menjadi seperti ini:
wira, berarti berani, jujur, tulus dan berbudi luhur
swa, artinya “sendiri”
sta, maknanya “berusaha”
Secara keseluruhan, kata-kata itu melukiskan figur seseorang yang menjalankan usaha secara mandiri, dilandasi sifat dan sikap yang luhur. Dengan demikian, seorang pengusaha, baik “wira”-swasta, mau pun “wira”-usaha, seharusnya memiliki sifat-sifat yang baik dan terpuji. Tidak berkolusi dengan pejabat, tidak memanipulasi takaran/timbangan, tidak serakah, tidak menyikut orang lain dan tidak mata duitan. Yang terakhir inilah yang sebenarnya ingin saya bahas dalam kesempatan ini.
Seperempat abad berlalu setelah era DR. Suparman, perkembangan kewirausahaan sungguh sangat menggembirakan. Meski pun pada kenyataannya, penerimaan Pegawai Negeri Sipil (PNS) masih diminati pelamar yang datang berduyun-duyun, namun di balik itu, ada fenomena yang bagi saya benar-benar mencengangkan. Sekarang ini, banyak sekali angkatan muda yang berminat, bahkan sangat terobsesi menerjuni bidang kewirausahaan. Kursus-kursus kewirausahan tumbuh bak jamur di musim hujan, bisnis waralaba terus merebak, tidak saja yang global, tapi terutama sekali yang lokal bertebaran di mana-mana. Klub-klub dan milis-milis entrepreneur juga bermunculan. Terlebih lagi, ternyata sudah banyak tokoh-tokoh muda Indonesia yang menjadi pakar bisnis, mentor-mentor kewirausahaan, konsultan-konsultan entrepreneurship yang naik ke panggung-panggung seminar, pelatihan serta lokakarya yang dengan begitu brilliannya membawakan topik-topik pembicaraan tentang kiat-kiat hidup sukses.
Terus terang saya kagum dan senang sekali dengan kenyataan bahwa kaum muda Indonesia sudah dapat berekspresi sedemikian rupa, cerdas dan bijak. Semoga fenomena ini tidak semata-mata fenomenal, seperti kata orang dulu, hangat-hangat tahi ayam, tapi akan terus berkembang dan bertumbuh. Makin banyak tokoh wirausaha yang dilahirkan, dan makin banyak pula pengusaha-pengusaha “bersih” yang muncul bahu-membahu memperkokoh ketahanan ekonomi bangsa.
Motivasi ala Amerika
Hanya ada satu hal yang masih mengusik perasaan saya. Dari berbagai pembicaraan di seminar, di pembicaraan sehari-hari bahkan di milis, terlalu sering saya mendengar ungkapan “bagaimana menjadi kaya”. Apalagi setelah nama Robert Kiyosaki melambung, maka pemeo “retired young, retired rich” seakan sudah menjadi jargon kalangan muda yang menamakan diri sebagai “entrepreneur”. Apa benar seorang entrepreneur sejati, memotivasi diri hanya sebatas “retired young, retired rich”? Pensiun muda pensiun kaya? Setelah itu apa?
Sebagai seorang pengamat kewirausahaan, saya melihat bahwa wacana profesionalisme, kewirausahaan serta kiat-kiat hidup sukses banyak didominasi oleh tokoh-tokoh yang berasal dari Amerika. Mereka inilah yang banyak mencuatkan kata-kata tentang kekayaan, tentang kelimpahan uang, rumah mewah sampai kapal pesiar dan pesawat pribadi. Tiga puluh tahun yang lalu saja, orang sudah kenal dengan yang namanya Napoleon Hill. Tokoh ini sangat masyhur dengan bukunya “Think and Grow Rich” (Berfikir dan Menjadi Kaya). Seorang tokoh lain, Tyler G. Hicks, dalam bab pertama bukunya “How To Start Your Own Business..”menulis: “Ketahuilah Nikmat Menjadi Kaya. Hanya Dengan Bekerja Di Rumah.dst..” serta bercerita bagaimana dia menghabiskan waktu liburnya di atas kapal pesiar. Anthony Robbins dalam “Awaken The Giant Within” juga menyinggung soal kekayaan materi berupa pesawat pribadinya. Lantas muncul lagi Robert Kiyosaki yang mengajarkan bagaimana menjadi kaya dengan jalan menyuruh uang bekerja untuk kita. Lalu populerlah pemeo yang tadi: “retired young, retired rich”..!!
Saya tidak mengatakan bahwa menjadi kaya itu salah. Bahkan dalam banyak hal, menjadi kaya itu jauh lebih baik dari pada menjadi miskin. Saya hanya khawatir, bahwa kita sedang berbicara kepada publik di Indonesia yang sedang parah-parahnya terjangkit demam konsumerisme, materialisme serta korupsi Bukan tidak mungkin, penghamburan kata-kata tentang kekayaan serta motivasi berlebihan tentang kekayaan akan menjadikan orang terbius dengan angan-angan yang melambung, sehingga suatu saat, sewaktu sadar bahwa kekayaan itu tidak datang dengan segera, akhirnya mereka mengambil jalan pintas.
Apakah tidak ada hal lain yang lebih ideal untuk memotivasi orang agar mau bekerja keras?
Kiranya perlu diperbandingkan, mengapa pembicara-pembicara Amerika menggunakan isu kekayaan sebagai motif, dan bagaimana dampaknya bila hal yang sama diterapkan di Indonesia. Betapa pun Amerika jelas berbeda dengan Indonesia. Negeri Paman Sam adalah negeri termakmur di dunia, negara terkuat yang didukung oleh sumber daya manusia paling berkualitas di seantero jagat. Tingkat kemiskinan sudah bisa dianggap nol. Oleh sebab itu, tidak akan ada lagi wacana yang menarik publik Amerika, apabila yang dibicarakan hanya sekadar tentang bagaimana keluar dari perangkap kemiskinan, atau bagaimana mengatasi status pengangguran dengan jalan menjadi wirausahawan. Jelas itu tidak akan menarik lagi. Harus dicarikan hal lain yang lebih bombastis. Maka kekayaanlah yang dianggap cukup “menjual”, karena dengan menjadi kaya barulah orang di Amerika merasa bermakna dan “terpandang”. Di suatu negeri yang rata-rata warganya sudah mapan dalam hal ekonomi, menjadi kaya (raya) hanyalah merupakan refleksi sebuah prestasi. Tidak ada beban moral atas kekayaan itu, karena semua orang di sekitar juga sudah hidup berkecukupan.
Bagaimana dengan di Indonesia?
Selama ini saya agak cemas, melihat betapa para motivator kita hanya mengedepankan isu kekayaan, kenikmatan hidup duniawi yang egoistis bahkan menjurus hedonis, serta mudahnya menjadi kaya, tanpa perlu kerja keras. Adakah kehidupan ini benar-benar semudah membalikkan tangan? Di tengah-tengah hiruk-pikuknya isu entrepreneurship sekarang ini, beberapa mentor, dalam usaha memotivasi para peminat bisnis, bahkan menggunakan slogan yang tidak tanggung-tanggung: “Kalau ingin kaya, jangan kerja keras, tapi jadilah pemalas..!”
Mungkin, beliau-beliau ini secara tersirat ingin menganjurkan apa yang disebut dengan “smart work”, kerja cerdas yang memungkinkan efisiensi waktu, biaya dan energi demi pencapaian target dalam bingkai waktu yang telah direncanakan. Dan bukannya “hard work” versi buruh pabrik yang nyaris tidak pernah merasakan manisnya madu kesuksesan, karena kesuksesan itu telah menjadi hak milik abadi dari para majikan mereka.
Namun demikian, slogan tetaplah slogan. Kalimat-kalimat pendek berisiko menyebabkan salah kaprah. Misalnya, menjadi pemalas itu tidak perlu diajarkan atau dianjurkan. Sifat malas memang sudah “bakat alam” semua manusia, apalagi orang Indonesia, termasuk saya. Jadi rasanya tidak perlulah menganjurkan orang menjadi pemalas. Kalau slogan lain mengatakan “Jadilah Kaya Hanya Dengan Bekerja Di Rumah”, maka kemungkinan besar orang akan menyerap kata-kata “kaya”nya saja, tapi mengabaikan kata “bekerja”. “Bekerja Di Rumah” akan menjadi berarti “Berleha-leha Di Rumah”. Pada saat sekian lama berleha-leha di rumah dan kekayaan tidak kunjung datang, maka jalan pintas pun menjadi pilihan berikut.
Banyak contoh tentang orang-orang yang frustasi karena kepingin cepat kaya, lalu mengambil jalan pintas. Antara lain, bagaimana beberapa pengusaha berubah menjadi pembobol-pembobol bank, sebagian lagi mengedarkan bahkan membangun pabrik narkotika, penipu-penipu melalui sms hadiah, para birokrat yang menjalankan korupsi berjamaah dan lain sebagainya.
Kalau kembali kepada slogan “retired young, retired rich”, hendaklah kita bertanya kepada diri sendiri, sudah sedemikian egoisnyakah kita? Di saat-saat bangsa dan negara sedang ambur-adul dengan rakyat miskin dan busung lapar yang masih begitu banyak bertebaran di seluruh pelosok tanah air, tegakah kita berfikir untuk menjadi kaya-raya, pensiun muda lalu pergi keliling dunia dengan kapal pesiar dan pesawat pribadi?
Barangkali ada baiknya kalau kita mengambil acuan yang lebih sesuai. Kalau kita harus ber-“xenophilia” (gandrung dengan segala sesuatu yang berasal dari negeri asing), maka kita dapat menemukan pebisnis-pebisnis yang sangat ideal, yang pengarahan-pengarahannya lebih sesuai dengan kondisi Indonesia, antara lain Kim Woo Chong, CEO sekaligus pendiri dari imperium bisnis asal Korea, Daewoo. Atau Akio Morita, salah satu pemilik perusahaan raksasa dari Jepang, yaitu Sony. Kalau harus nasionalis, kita akan dapat menemukan pengusaha dengan idealisme tinggi, tidak lain adalah Thayeb M. Gobel, pendiri PT National Gobel. Dan kalau kita harus berbicara secara sedikit spiritual, kita juga akan bisa menyimak apa yang dikatakan oleh Mahatma Gandhi, atau meneladani Nabi yang juga pengusaha sekaligus penguasa, yaitu Muhammad SAW.
Apa kata mereka dan bagaimana cara mereka memotivasi orang?
Tambahkanlah Sedikit Idealisme Dalam Berbisnis
Idola saya dalam dunia usaha, adalah Kim Woo Chong, pendiri Daewoo. Kim tidak pernah merekomendasikan aktivitas yang bersifat hura-hura atau hedonisme. Jangankan berlibur dengan menikmati nyamannya kapal pesiar, bermain golf pun tidak pernah ia lakukan, meski perangkat golf yang paling canggih dia punya. Padahal, umumnya pegusaha pasti memanfaatkan permainan ini paling tidak sebagai sarana lobi. Begitu juga nonton bioskop, nyanyi di karaoke, minum-minum di pub dan lain sebagainya, pantang bagi Kim Woo Chong.
Semua aktivitas yang bersifat hura-hura diharamkan oleh Kim. Karena apa? Ia berpendapat, meski memiliki uang triliunan rupiah, ia tidak berhak menggunakannya secara semena-mena. Apalagi untuk kegiatan yang tidak jelas manfaatnya. Setiap sen dari uang yang dikeluarkan, harus dapat dipertanggungjawabkan, karena semua uang tersebut berasal dari jerih payah serta tetesan keringat bayak orang. Mulai dari karyawan, buruh, mandor, manajer, pemasok barang, sampai pelanggan.
Kim juga tidak suka akan wacana “pensiun muda, pensiun kaya”. Ia sangat kecewa ketika suatu kali bertemu dengan seorang pemuda penyandang gelar MBA, yang menyatakan tidak sanggup bekerja di Daewoo karena takut kerja keras. Bahkan ketika ditanya apa cita-citanya, sang pemuda menjawab bahwa ia ingin bekerja di perusahaan asing yang mau memberinya gaji besar tanpa harus kerja keras. Setelah beberapa tahun, dengan uang gaji yang dikumpulkannya, ia akan berhenti kerja, pensiun, lalu bersama pacarnya akan membuka kafe dan hidup santai, tenang dan tenteram sepanjang hidup.
Sikap seperti ini, menurut Kim, adalah cerminan dari sikap mental “melempem dan egois” yang ditunjukkan oleh tipikal generasi muda Korea, yang terlanjur terkena “sindrom kenyamanan”, sebagai dampak kemajuan industrialisasi.
Sebaliknya dari egoisme, seharusnya setiap generasi memiliki semangat pengorbanan, bekerja demi kesejahteraan banyak orang dan terutama sekali, demi kesejahteraan generasi berikutnya. Itulah kunci kenapa Amerika menjadi sebuah negeri yang benar-benar makmur dengan rakyatnya yang sejahtera. Generasi pendahulu merekalah yang telah bekerja keras membangun Amerika dari sejak ditemukannya, diteruskan oleh generasi-generasi berikutnya, sampai terwujud Amerika yang kaya raya seperti sekarang ini. Itulah idealisme yang seyogyanya dikobarkan oleh para motivator bisnis di Indonesia.
Semua usaha atau perusahaan yang baik dan ideal, umumnya dimulai dari sebuah idealisme. Bukan sekadar untuk menjadi kaya sendiri untuk kemudian berfoya-foya keliling dunia dan menghabiskan waktu di klub-klub malam. Mari kita lihat:
1) DAEWOO: Kim Woo Chong memulai usahanya dengan satu acuan tentang bagaimana mengatasi penderitaan bangsanya seusai Perang Korea di mana negara tersebut jatuh ke dalam kondisi ekonomi yang benar-benar hancur. Ia tidak memvisualisasikan dirinya kelak menjadi orang kaya, tapi sebaliknya ia mencita-citakan bangsa dan negara Korea yang bisa mengejar ketinggalannya dalam bidang-bidang ekonomi dan teknologi, terhadap negara-negara maju seperti Amerika Serikat dan negara-negara Eropa. Untuk bisa mengejar ketinggalan itu, ia menyimpulkan bahwa orang Korea harus mampu bekerja dalam jumlah jam kerja yang 2 kali lebih banyak dari jam kerja orang Amerika. Kim kemudian mencontohkan, bagaimana ia sendiri bekerja setiap hari mulai dari jam 5 pagi sampai jam 9 malam, sementara orang lain bekerja mulai dari jam 9 pagi hingga jam 5 sore.
2) SONY CORP: Akio Morita, memutuskan untuk mendirikan perusahaannya, Sony, dengan satu motivasi yang muncul akibat melihat bagaimana hancur luluhnya Jepang setelah dibom atom oleh Amerika. Peristiwa tersebut merupakan indikator bahwa bangsa Jepang ternyata masih kalah di segala bidang oleh Amerika, oleh karenanya, bangsa Jepang harus menebus kekalahannya itu dengan bekerja dan belajar sungguh-sungguh. Tidak satu literatur pun yang menceritakan bahwa Akio Morita berkhayal untuk menjadi orang kaya yang pelesiran ke sana ke mari keliling dunia.
3) PT NATIONAL GOBEL: Thayeb Mohammad Gobel, tadinya adalah seorang karyawan yang bekerja untuk orang lain. Tapi hati kecilnya berkata lain, bahwa ia ingin memiliki usahanya sendiri. Niat dan cita-citanya itu segera dia cetuskan, segera setelah melihat bagaimana banyak orang di Jakarta mandi, mencuci bahkan berkumur di kali Ciliwung yang airnya begitu kotor dan keruh, jauh dari nilai-nilai kesehatan. Ia insyaf itulah gambaran kemiskinan rakyat Indonesia dan ia berbulat tekad untuk berkontribusi mengatasi penderitaan banyak orang melalui perusahaan yang didirikannya, PT National Gobel.
4) MAHATMA GANDHI: adalah seorang tokoh politik sekaligus spiritual di India. Ia memberikan pengarahannya kepada masyarakat banyak tentang nilai-nilai sebuah aktivitas (kerja), yang jauh lebih berharga daripada uang (hasil kerja):” Kebahagian sejati itu terletak pada aktivitas kerja, bukan pada hasil kerja itu sendiri”..
5) NABI MUHAMMAD: Nabi Muhammad adalah seorang pedagang atau pengusaha, dan dalam perjalanan hidupnya ia bahkan menjadi seorang Khalifah (Kepala Negara). Sebagai seorang pemimpin yang berkuasa atas seluruh Jazirah Arab, maka kekayaan beliau sudah sulit untuk diukur, saking kayanya. Tapi apa yang dijalankan beliau dalam hidupnya adalah, ia hanya tinggal di sebuah rumah gubuk sederhana, tidur di atas selembar tikar sederhana pula, serta makan ala kadarnya. Jauh dari yang namanya hura-hura dan pemanjaan diri.
Dalam konteks apa yang saya paparkan di atas, maka saya ingin sekali mengajak saudara-saudara, teman-teman dan rekan-rekan para entrepreneur, calon entrepreneur, para mentor dan pelatih bisnis, instruktur pelatihan kewirausahan, para pembicara seminar dan lokakarya, agar seyogyanya dapat me-review isu-isu motivasinya yang selama ini mungkin hanya sebatas pada kekayaan materi semata. Sebab, isu kekayaan berisiko menimbulkan berbagai dampak yang kurang baik, antara lain orang menjadi egoistis dan kurang kepedulian pada sesama. Karena, bukankah kalau seseorang ingin menjadi kaya, harus ada pula mereka yang miskin? Di samping itu, motivasi kekayaan biasanya bersifat rapuh, karena, jika setelah sekian waktu bekerja dan ternyata kekayaan tidak kunjung datang, maka orang akan mudah putus asa dan malas bekerja lebih jauh.
Dan yang terakhir, orang akan terperangkap dalam sebuah gaya hidup yang disebut “Money Centered Life”, kehidupan yang berpusat kepada uang. Pada saat uang meninggalkan seseorang, maka hancur pulalah hidup orang tersebut. Sudahkan Anda pernah membaca kisah tentang akhir kehidupan yang tragis dari orang-orang super kaya Amerika yang terjebak dalam “Money Centered Life”, seperti Charles Schwab, Jessy Livermore, Ivan Krueger, Samuel Insull, Howard Hopson, Arthur Cotton, Richard Whitney, Leon Frasier, dan Albert Fall? Kalau belum dan Anda tertarik untuk membacanya, Anda bisa menghubungi saya dan saya akan mengirimkan 1 kopi dari cerita tersebut.
Tulisan ini saya persembahkan kepada segenap bangsa Indonesia tidak dengan maksud apa-apa, selain daripada panggilan jiwa untuk peduli kepada nasib bangsa ini, nasib sebagian besar saudara-saudara kita yang masih diterpa berbagai penderitaan berupa kemiskinan, kemelaratan, kelaparan serta kebodohan. Marilah kita bersama-sama bekerja keras membangun negeri tercinta ini melalui jalur apa saja sesuai dengan kemampuan kita masing-masing, terutama para rekan sejawat yang menyatakan diri sebagai entrepreneur, bekerjalah terus guna meraih kesejahteraan yang maksimal dan merata, yang bisa dinikmati semua warganegara secara adil. Lupakanlah wacana untuk menjadi kaya sendiri, dan lupakanlah semua khayalan tentang pensiun muda, karena wirausahawan tidak mengenal kata pensiun. Selama hayat dikandung badan, selama itu pula kita bisa berkontribusi pada orang banyak. Lupakan pula semua kesenangan duniawi, pelesiran dan hura-hura. Jangan lakukan itu selama masih sangat banyak saudara-saudara kita yang miskin dan kelaparan, yang anak-anaknya kurus kering kurang gizi dan tidak mampu bersekolah.
SALAM WIRAUSAHA
Rusman Hakim
Pengamat Kewirausahaan
(http://rusmanhakim.blogspot.com)
Up Your Service!
Kemarin pagi saya berbincang-bincang dengan salah seorang pelanggan Manet (http://manetvision.com). Melihat track record pembeliannya, saya lihat cukup mengesankan.
Iseng-iseng saya tanya bagaimana kesannya terhadap Manet selama ini. Apakah ada kekurangan yang perlu diperbaiki?
Dengan antusias ibu itu bercerita mengenai pengalamannya bermitra dengan Manet. Memang ada kekurangan, misalnya tidak tersedia ukuran untuk orang gemuk dan sebagainya. Tapi secara keseluruhan dia puas dengan pelayanan Manet selama ini.
Tapi, jika dibandingkan dengan pengalamannya berbisnis dengan perusahaan lain, dengan Manet dia jauh lebih puas. O ya? Iya, katanya segala kekurangan di perusahaan lain itu sepertinya ditutupi oleh Manet.
Saya mengangguk-angguk senang mendengar penuturannya. Alhamdulillah, komitmen ini tetap kami jaga sampai sekarang. Kami memang ingin hubungan bisnis dengan para mitra secara setara dan saling menguntungkan. Artinya, benar-benar menguntungkan, bukan manipulasi seperti yang banyak terjadi sekarang ini.
Dengan adanya komitmen pelayanan seperti ini akan menghasilkan pelanggan yang happy. Kebahagiaannya itu juga sekaligus menjadi kebahagiaan kami dan insya Allah bernilai ibadah juga. Jadi, keuntungan itu tidak sekedar materi saja, seperti kata Aa Gym. Bisnis itu harus menghasilkan nilai tambah dari sekedar materi. Saya nggak mau berceramahlah soal ini. Aa Gym adalah rujukan saya.
Konsep NILAI TAMBAH yang sering disampaikan oleh Pak Tung itu benar-benar powerful. Sekarang customer ditawari berbagai macam produk dan jasa. Tentunya mereka akan memilih yang nilai tambahnya paling tinggi baginya. Istilah GOOD, BETTER, BEST tidak cukup lagi sekarang ini. Orang mencari yang EXCELLENT. Sudahkah bisnis saya memberikan yang excellent? Wah, masih jauh tuh. Tapi saya sudah set dalam pikiran saya, bahwa bisnis saya HARUS mengarah ke sana.
Create WOW factor dalam pelayanan anda. Bikin customer anda terkaget-kaget dengan pelayanan yang diberikan.
Ada buku menarik mengenai service ini dari Ron Kaufman, judulnya Up Your Service! (http://upyourservice.com) Ron Kaufman dikenal luas secara internasional berkat tangan dinginnya membuat Singapore Airlines sebagai perusahaan penerbangan yang memberikan service yang tak tertandingi.
(http://roniyuzirman.blogspot.com)
Iseng-iseng saya tanya bagaimana kesannya terhadap Manet selama ini. Apakah ada kekurangan yang perlu diperbaiki?
Dengan antusias ibu itu bercerita mengenai pengalamannya bermitra dengan Manet. Memang ada kekurangan, misalnya tidak tersedia ukuran untuk orang gemuk dan sebagainya. Tapi secara keseluruhan dia puas dengan pelayanan Manet selama ini.
Tapi, jika dibandingkan dengan pengalamannya berbisnis dengan perusahaan lain, dengan Manet dia jauh lebih puas. O ya? Iya, katanya segala kekurangan di perusahaan lain itu sepertinya ditutupi oleh Manet.
Saya mengangguk-angguk senang mendengar penuturannya. Alhamdulillah, komitmen ini tetap kami jaga sampai sekarang. Kami memang ingin hubungan bisnis dengan para mitra secara setara dan saling menguntungkan. Artinya, benar-benar menguntungkan, bukan manipulasi seperti yang banyak terjadi sekarang ini.
Dengan adanya komitmen pelayanan seperti ini akan menghasilkan pelanggan yang happy. Kebahagiaannya itu juga sekaligus menjadi kebahagiaan kami dan insya Allah bernilai ibadah juga. Jadi, keuntungan itu tidak sekedar materi saja, seperti kata Aa Gym. Bisnis itu harus menghasilkan nilai tambah dari sekedar materi. Saya nggak mau berceramahlah soal ini. Aa Gym adalah rujukan saya.
Konsep NILAI TAMBAH yang sering disampaikan oleh Pak Tung itu benar-benar powerful. Sekarang customer ditawari berbagai macam produk dan jasa. Tentunya mereka akan memilih yang nilai tambahnya paling tinggi baginya. Istilah GOOD, BETTER, BEST tidak cukup lagi sekarang ini. Orang mencari yang EXCELLENT. Sudahkah bisnis saya memberikan yang excellent? Wah, masih jauh tuh. Tapi saya sudah set dalam pikiran saya, bahwa bisnis saya HARUS mengarah ke sana.
Create WOW factor dalam pelayanan anda. Bikin customer anda terkaget-kaget dengan pelayanan yang diberikan.
Ada buku menarik mengenai service ini dari Ron Kaufman, judulnya Up Your Service! (http://upyourservice.com) Ron Kaufman dikenal luas secara internasional berkat tangan dinginnya membuat Singapore Airlines sebagai perusahaan penerbangan yang memberikan service yang tak tertandingi.
(http://roniyuzirman.blogspot.com)
Mau Jadi Perusahaan Sungai Atau Perusahaan Kubangan?
Orang yang berpikiran "dangkal" percaya kepada keberuntungan, yang bijak dan tangguh percaya kepada sebab akibat. Demikian kata Ralph Waldo Emerson seperti yang dikutip oleh Rhenald Kasali dalam peluncuran buku barunya berjudul "River Company: Apa yang Membedakan CNI dengan Perusahaan Kubangan" di Hotel Sari Pan Pacific, Kamis 7 Desember kemarin.
Buku ini bertutur tentang sejarah perjalanan dan filosofi bisnis CNI, sebuah perusahaan pelopor MLM di Indonesia. Nilai-nilai filosofi River Company ini sangat menarik untuk dikaji. Sungai yang mengalir dan memberikan manfaat bagi kehidupan di masyarakat menjadi ilham bagi perusahaan yang genap berusia 20 tahun ini. Rhenald Kasali dari MM UI bahkan terlambat dalam menulis buku ini, karena sudah didahului oleh Peking University yang telah menerbitkan filosofi CNI ini dalam kajian ilmiahnya.
Apa bedanya River Company dengan Puddle Company (Perusahaan Kubangan)? River Company ibarat sungai yang mengalir dan memberikan segala manfaat kepada masyarakat dan lingkungan. Puddle Company adalah perusahaan yang seperti air keruh dalam kubangan, tidak mengalir, tidak memberi manfaat. Perusahaan inilah yang banyak kita lihat melakukan money game, illegal logging, banjir lumpur panas, perilaku tidak terpuji karyawan, perusak lingkungan, skandal saham dan akuntansi, dan bank bodong.
"Berhati-hatilah terhadap mereka yang menjanjikan atau berbicara soal kekayaan melulu, sebab mereka dapat merampas kekayaan yang sudah kita miliki", kata Rhenald mengutip kata-kata Onad L. Sakai. Anda pernah ditawari bisnis atau investasi yang menjanjikan untung 100% sebulan? Inilah ciri-ciri Perusahaan Kubangan.
Apa saja karakter Perusahaan Sungai? Ada 8 karakter disebutkan oleh Rhenald, yaitu:
1. Mata air yang terus mengalir
2. Pembawa perubahan
3. Prinsip ekologis
4. Nilai bersama
5. Adaptif
6. Citra diri kuat
7. Melintas batas
8. Menciptakan Virtuous Circle
Mengenai penjelasan dari masing-masing karakter itu, silakan baca aja deh. Yang jelas buku ini menarik. Apalagi bagi kita-kita yang bisnisnya masih tahap start up, sungguh berharga pembelajaran yang diberikan oleh perusahaan CNI ini.
Salam FUUUNtastic!
Untuk TDA Book Club
Wassalam,
Roni
(http://roniyuzirman.blogspot.com)
Buku ini bertutur tentang sejarah perjalanan dan filosofi bisnis CNI, sebuah perusahaan pelopor MLM di Indonesia. Nilai-nilai filosofi River Company ini sangat menarik untuk dikaji. Sungai yang mengalir dan memberikan manfaat bagi kehidupan di masyarakat menjadi ilham bagi perusahaan yang genap berusia 20 tahun ini. Rhenald Kasali dari MM UI bahkan terlambat dalam menulis buku ini, karena sudah didahului oleh Peking University yang telah menerbitkan filosofi CNI ini dalam kajian ilmiahnya.
Apa bedanya River Company dengan Puddle Company (Perusahaan Kubangan)? River Company ibarat sungai yang mengalir dan memberikan segala manfaat kepada masyarakat dan lingkungan. Puddle Company adalah perusahaan yang seperti air keruh dalam kubangan, tidak mengalir, tidak memberi manfaat. Perusahaan inilah yang banyak kita lihat melakukan money game, illegal logging, banjir lumpur panas, perilaku tidak terpuji karyawan, perusak lingkungan, skandal saham dan akuntansi, dan bank bodong.
"Berhati-hatilah terhadap mereka yang menjanjikan atau berbicara soal kekayaan melulu, sebab mereka dapat merampas kekayaan yang sudah kita miliki", kata Rhenald mengutip kata-kata Onad L. Sakai. Anda pernah ditawari bisnis atau investasi yang menjanjikan untung 100% sebulan? Inilah ciri-ciri Perusahaan Kubangan.
Apa saja karakter Perusahaan Sungai? Ada 8 karakter disebutkan oleh Rhenald, yaitu:
1. Mata air yang terus mengalir
2. Pembawa perubahan
3. Prinsip ekologis
4. Nilai bersama
5. Adaptif
6. Citra diri kuat
7. Melintas batas
8. Menciptakan Virtuous Circle
Mengenai penjelasan dari masing-masing karakter itu, silakan baca aja deh. Yang jelas buku ini menarik. Apalagi bagi kita-kita yang bisnisnya masih tahap start up, sungguh berharga pembelajaran yang diberikan oleh perusahaan CNI ini.
Salam FUUUNtastic!
Untuk TDA Book Club
Wassalam,
Roni
(http://roniyuzirman.blogspot.com)
Risiko Wirausahawan Dalam Pengembangan Bisnis
Seiring dengan perkembangan usaha yang biasanya diikuti dengan perubahan gaya manajemen, maka pada saat yang sama para wirausahawan dihadapkan pada berbagai risiko. Bagi sebagian wirausahawan yang memiliki keberanian dan kematangan berpikir risiko-risiko tersebut mungkin sudah diantisipasi dan dapat dilalui dengan baik. Namun bagi sebagian wirausahawan yang lain, risiko yang harus dihadapi dalam pengembangan usahanya bisa jadi dirasakan terlalu berat dan penuh ketidakpastian sehingga mereka lebih memilih untuk mempertahankan status quo.
Risiko Riil & Psikologis
Pada dasarnya ada dua risiko yang dihadapi oleh para wirausahawan ketika diberikan kesempatan untuk mengembangkan usahanya. Kedua risiko tersebut adalah:
1. Risiko Riil, adalah risiko yang terlihat, bisa dihitung, bisa diantisipasi dan bisa dihindari. Termasuk dalam risiko ini adalah:
1.Kehilangan modal baik yang sudah ditanam dan akan ditanamkan ke dalam perusahaan
2.Kehilangan kesempatan untuk mendapatkan keuntungan, di masa sekarang ataupun masa depan
3.Kehilangan mata pencaharian untuk menutupi kebutuhan sehari-hari
4.Kehilangan kendali atas kekuasaan yang selama ini dimilikinya (decision-making) karena ada pengalihan gaya bisnis keluarga menjadi gaya bisnis profesional
2. Risiko Psikologis, adalah risiko yang tidak terlihat, tidak bisa dihitung, bisa diantisipasi, tetapi belum tentu bisa dihindarkan. Termasuk dalam risiko ini adalah:
1.Kehilangan reputasi (hilang muka, nama besar, citra, dsb) dan risiko menanggung malu
2.Kehilangan kepercayaan – pada diri sendiri dan pada orang lain (Menjadi paranoid atau blind-dependency)
3.Kehilangan perasaan “potent” atau mampu yang akan menyebabkan hilangnya rasa percaya diri
4.Kehilangan jatidiri (terutama bagi mereka yang sudah menganggap keberadaan perusahaan sebagai keberadaan dirinya sendiri)
5.Kehilangan motivasi untuk berjuang
Alasan
Dari keempat risiko riil yang dihadapi oleh seorang wirausahawan seperti yang disebutkan di atas, risiko yang seringkali terlewatkan dan tidak dipertimbangkan secara mendalam adalah risiko terakhir, yaitu kehilangan kendali atau kekuasaan karena perubahan gaya bisnis keluarga ke gaya bisnis profesional. Banyak wirausahawan yang menganggap hal ini bukan sebuah risiko yang harus dipertimbangkan dan tetap memaksakan untuk mempertahankan gaya bisnis lama ke dalam perusahaannya. Kenyataannya, gaya ini seringkali tidak bertahan lama dan mungkin akan membawa kerugian lain (kehilangan kesempatan). Di lain pihak penerapan gaya bisnis tersebut justru membuat para profesional tidak dapat memberikan kemampuan terbaik yang mereka miliki.
Dampak utama dari pengabaian resiko tersebut adalah perusahaan yang lamban berkembang dan sumberdaya yang ada menjadi tidak efisien. Revenue perusahaan tetap tetapi cost menjadi lebih tinggi karena adanya investasi baru dan menyebabkan menurunnya keuntungan. Selain itu, para pekerja menjadi bingung karena banyak keputusan yang ambivalen dan tidak jelas arahnya sesuai dengan kebingungan dan ketidak-jelasan sikap wirausahawan. Ibaratnya, perusahaan menjadi sebuah mobil mewah dengan kapasitas 4000 cc dengan harga beli miliaran tetapi hanya bisa digunakan beberapa kali saja saat liburan karena beban biaya untuk digunakan di Jakarta ketika jam bubaran kantor di tengah hujan rintik sangat tinggi. Akibatnya, si pemilik akan mengencangkan ikat pinggang dan berusaha menekan pengeluaran lain, biasanya pengeluaran variabel, seperti gaji, fasilitas, dan logistik demi mempertahankan cash-flownya. Keuntungan akan menjadi kerugian dan pemilik akan merasa kelelahan sendiri karena bekerja lebih keras hanya untuk menutupi biaya yang bertambah besar itu.
Mengapa begitu sulit bagi seorang wirausahawan menyerahkan kendali perusahaan kepada para profesionalnya? Jawabnya adalah karena banyak diantara mereka merasa frustrasi dengan para profesional yang seringkali bersikap arogan dan tidak nyambung dengan kebutuhan, visi dan misi si wirausahawan. Frustrasi para pemilik ini lalu dilontarkan sebagai keluhan bahwa mencari manajer atau orang yang tepat sangat sulit, apalagi mencari orang yang memiliki profesionalisme yang tinggi. Coba kita dengar keluhan umum para pengusaha yang antara lain:
• “Kita bukannya tidak mau memberikan wewenang dan tanggungjawab kepada para profesional tetapi tolonglah carikan orang yang tepat. Kita sering kecewa dengan para manager kita”
• “Ah, sulit untuk berbisnis besar di Indonesia karena kualitas sumberdaya manusianya begitu rendah sehingga tidak mungkin produktivitas itu tinggi”
• “Yang paling bikin susah punya bisnis di Indonesia adalah urusan ketenaga-kerjaan; susah sekali mengatur orang, sudah malas, bodoh, tidak mau mengerti, bisanya hanya menuntut, dan harus diatur dengan keras karena seringkali diberi hati malah minta ampela”
Keluhan di atas sangat umum dan mungkin sudah sangat sering kita dengar, tetapi apakah kenyataannya benar demikian???
Langkah Pencegahan
Keluhan-keluhan seperti yang disebutkan di atas seharusnya tidak perlu terjadi jika para wirausahawan sudah mempersiapkan infrastruktur sumber daya manusia sejak keputusan pengembangan perusahaan dibuat. Seperti halnya dalam perencanaan keuangan, sumberdaya ini harus dibuat secara rinci dan jelas mengikuti rencana pengembangan perusahaan. Hal-hal yang harus dipikirkan adalah arah pengembangan perusahaan, ruang lingkup & fungsi SDM yang dibutuhkan (manager lini atau eksekutif puncak), kualitas yang sesuai dengan visi dan keadaan perusahaan, wewenang & tanggung jawab yang dia akan miliki, jenis kepribadian yang sesuai dengan perusahaan dan wirausahawan, dsb.
Dalam kenyataannya, perencanaan SDM ini jarang dilakukan oleh para wirausahawan bahkan seringkali dilupakan. Hal yang lebih sering terjadi adalah SDM baru dicari dan direkut ketika kebutuhan untuk itu sudah sangat mendesak, sehingga proses pencarian profesional seringkali tidak efektif, karena dilakukan tergesa-gesa dan tanpa perencanaan yang matang. Penempatan para profesional di dalam perusahaan menjadi proses “tambal sulam”. Akibatnya, pembajakan terhadap tenaga profesional sering terjadi, padahal belum tentu profesional hasil bajakan tersebut tepat dengan kebutuhan perusahaan, mengingat kondisi dan iklim kerja yang berbeda. Akhirnya tidak jarang si wirausahawan menjadi kecewa apalagi ditambah dengan biaya rekrutmen yang biasanya cukup tinggi. Idealnya proses rekrutmen dan seleksi tentu harus melalui beberapa tahapan, termasuk perencanaan dan standard kualitas SDM yang rinci, agar perusahaan bisa mendapatkan para profesional yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan perusahaan tersebut.(jp)
Oleh Lilly H. Setiono (e-psikologi)
Risiko Riil & Psikologis
Pada dasarnya ada dua risiko yang dihadapi oleh para wirausahawan ketika diberikan kesempatan untuk mengembangkan usahanya. Kedua risiko tersebut adalah:
1. Risiko Riil, adalah risiko yang terlihat, bisa dihitung, bisa diantisipasi dan bisa dihindari. Termasuk dalam risiko ini adalah:
1.Kehilangan modal baik yang sudah ditanam dan akan ditanamkan ke dalam perusahaan
2.Kehilangan kesempatan untuk mendapatkan keuntungan, di masa sekarang ataupun masa depan
3.Kehilangan mata pencaharian untuk menutupi kebutuhan sehari-hari
4.Kehilangan kendali atas kekuasaan yang selama ini dimilikinya (decision-making) karena ada pengalihan gaya bisnis keluarga menjadi gaya bisnis profesional
2. Risiko Psikologis, adalah risiko yang tidak terlihat, tidak bisa dihitung, bisa diantisipasi, tetapi belum tentu bisa dihindarkan. Termasuk dalam risiko ini adalah:
1.Kehilangan reputasi (hilang muka, nama besar, citra, dsb) dan risiko menanggung malu
2.Kehilangan kepercayaan – pada diri sendiri dan pada orang lain (Menjadi paranoid atau blind-dependency)
3.Kehilangan perasaan “potent” atau mampu yang akan menyebabkan hilangnya rasa percaya diri
4.Kehilangan jatidiri (terutama bagi mereka yang sudah menganggap keberadaan perusahaan sebagai keberadaan dirinya sendiri)
5.Kehilangan motivasi untuk berjuang
Alasan
Dari keempat risiko riil yang dihadapi oleh seorang wirausahawan seperti yang disebutkan di atas, risiko yang seringkali terlewatkan dan tidak dipertimbangkan secara mendalam adalah risiko terakhir, yaitu kehilangan kendali atau kekuasaan karena perubahan gaya bisnis keluarga ke gaya bisnis profesional. Banyak wirausahawan yang menganggap hal ini bukan sebuah risiko yang harus dipertimbangkan dan tetap memaksakan untuk mempertahankan gaya bisnis lama ke dalam perusahaannya. Kenyataannya, gaya ini seringkali tidak bertahan lama dan mungkin akan membawa kerugian lain (kehilangan kesempatan). Di lain pihak penerapan gaya bisnis tersebut justru membuat para profesional tidak dapat memberikan kemampuan terbaik yang mereka miliki.
Dampak utama dari pengabaian resiko tersebut adalah perusahaan yang lamban berkembang dan sumberdaya yang ada menjadi tidak efisien. Revenue perusahaan tetap tetapi cost menjadi lebih tinggi karena adanya investasi baru dan menyebabkan menurunnya keuntungan. Selain itu, para pekerja menjadi bingung karena banyak keputusan yang ambivalen dan tidak jelas arahnya sesuai dengan kebingungan dan ketidak-jelasan sikap wirausahawan. Ibaratnya, perusahaan menjadi sebuah mobil mewah dengan kapasitas 4000 cc dengan harga beli miliaran tetapi hanya bisa digunakan beberapa kali saja saat liburan karena beban biaya untuk digunakan di Jakarta ketika jam bubaran kantor di tengah hujan rintik sangat tinggi. Akibatnya, si pemilik akan mengencangkan ikat pinggang dan berusaha menekan pengeluaran lain, biasanya pengeluaran variabel, seperti gaji, fasilitas, dan logistik demi mempertahankan cash-flownya. Keuntungan akan menjadi kerugian dan pemilik akan merasa kelelahan sendiri karena bekerja lebih keras hanya untuk menutupi biaya yang bertambah besar itu.
Mengapa begitu sulit bagi seorang wirausahawan menyerahkan kendali perusahaan kepada para profesionalnya? Jawabnya adalah karena banyak diantara mereka merasa frustrasi dengan para profesional yang seringkali bersikap arogan dan tidak nyambung dengan kebutuhan, visi dan misi si wirausahawan. Frustrasi para pemilik ini lalu dilontarkan sebagai keluhan bahwa mencari manajer atau orang yang tepat sangat sulit, apalagi mencari orang yang memiliki profesionalisme yang tinggi. Coba kita dengar keluhan umum para pengusaha yang antara lain:
• “Kita bukannya tidak mau memberikan wewenang dan tanggungjawab kepada para profesional tetapi tolonglah carikan orang yang tepat. Kita sering kecewa dengan para manager kita”
• “Ah, sulit untuk berbisnis besar di Indonesia karena kualitas sumberdaya manusianya begitu rendah sehingga tidak mungkin produktivitas itu tinggi”
• “Yang paling bikin susah punya bisnis di Indonesia adalah urusan ketenaga-kerjaan; susah sekali mengatur orang, sudah malas, bodoh, tidak mau mengerti, bisanya hanya menuntut, dan harus diatur dengan keras karena seringkali diberi hati malah minta ampela”
Keluhan di atas sangat umum dan mungkin sudah sangat sering kita dengar, tetapi apakah kenyataannya benar demikian???
Langkah Pencegahan
Keluhan-keluhan seperti yang disebutkan di atas seharusnya tidak perlu terjadi jika para wirausahawan sudah mempersiapkan infrastruktur sumber daya manusia sejak keputusan pengembangan perusahaan dibuat. Seperti halnya dalam perencanaan keuangan, sumberdaya ini harus dibuat secara rinci dan jelas mengikuti rencana pengembangan perusahaan. Hal-hal yang harus dipikirkan adalah arah pengembangan perusahaan, ruang lingkup & fungsi SDM yang dibutuhkan (manager lini atau eksekutif puncak), kualitas yang sesuai dengan visi dan keadaan perusahaan, wewenang & tanggung jawab yang dia akan miliki, jenis kepribadian yang sesuai dengan perusahaan dan wirausahawan, dsb.
Dalam kenyataannya, perencanaan SDM ini jarang dilakukan oleh para wirausahawan bahkan seringkali dilupakan. Hal yang lebih sering terjadi adalah SDM baru dicari dan direkut ketika kebutuhan untuk itu sudah sangat mendesak, sehingga proses pencarian profesional seringkali tidak efektif, karena dilakukan tergesa-gesa dan tanpa perencanaan yang matang. Penempatan para profesional di dalam perusahaan menjadi proses “tambal sulam”. Akibatnya, pembajakan terhadap tenaga profesional sering terjadi, padahal belum tentu profesional hasil bajakan tersebut tepat dengan kebutuhan perusahaan, mengingat kondisi dan iklim kerja yang berbeda. Akhirnya tidak jarang si wirausahawan menjadi kecewa apalagi ditambah dengan biaya rekrutmen yang biasanya cukup tinggi. Idealnya proses rekrutmen dan seleksi tentu harus melalui beberapa tahapan, termasuk perencanaan dan standard kualitas SDM yang rinci, agar perusahaan bisa mendapatkan para profesional yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan perusahaan tersebut.(jp)
Oleh Lilly H. Setiono (e-psikologi)
Cara Meningkatkan Laba
Strategi dasar bagaimana corporate meraih untung. Saya menggunakan ini sebagai acuan dalam membuat sasaran proyek untuk corporate.
Yang perlu diketahui adalah, bahwa ada tiga cara yg biasa dilakukan perusahaan untuk meningkatkan laba
1. Meningkatkan pendapatan; dengan menjual lebih banyak produk atau jasa
2. Mengurangi biaya; dengan menekan pengeluaran
3. Menggunakan aset-aset perusahaan secara lebih baik; dengan melakukan lebih banyak pekerjaan dengan sedikit biaya
Dan trend yg berkembang sekarang, solusi bisnis tidak lagi berkutat pada efisiensi. Saat ini, segala sumber daya termasuk investasi IT lebih difokuskan utk meningkatkan revenue
(Guntar)
http://bintangtauladan.wordpress.com
Yang perlu diketahui adalah, bahwa ada tiga cara yg biasa dilakukan perusahaan untuk meningkatkan laba
1. Meningkatkan pendapatan; dengan menjual lebih banyak produk atau jasa
2. Mengurangi biaya; dengan menekan pengeluaran
3. Menggunakan aset-aset perusahaan secara lebih baik; dengan melakukan lebih banyak pekerjaan dengan sedikit biaya
Dan trend yg berkembang sekarang, solusi bisnis tidak lagi berkutat pada efisiensi. Saat ini, segala sumber daya termasuk investasi IT lebih difokuskan utk meningkatkan revenue
(Guntar)
http://bintangtauladan.wordpress.com
Subscribe to:
Posts (Atom)